Breaking News
Foto: Slater and Gordon Lawyers

Ummahat Manja

Selama ini mungkin saya termasuk dalam kriteria ummahat manja. Bagaimana tidak? Seringkali dalam banyak hal dan urusan, saya selalu mengandalkan suami saya. Mengantar dan menjemput anak sekolah, pulang dan pergi pengajian bahkan sampai pada urusan kecil seperti belanja untuk keperluan rumah tangga, saya selalu menunggu atau membuat janji dengan suami, kapan beliau bisa mengantar saya.

Khusus untuk mengantar dan menjemput anak-anak sekolah ada ummahat lain yang berkomentar pada saya, “Mbok ya anak-anak dijemput sendiri Ukh, apa nggak kasihan sama abinya sedang bekerja harus memikirkan antar jemput anak?” Dengan entengnya saya malah menjawab, “Justru Abinya kasihan sama saya kalau panas-panasan jemput anak-anak sekolah, he.. he.”

Kalau dilihat sekilas mungkin hal ini masih “wajar”. Tapi lama-lama saya merasa hal ini sangat menghambat mobilitas saya sebagai seorang yang ingin terlibat jauh dalam aktivitas dakwah. Jika saya tiba-tiba harus menerima amanah (di luar jadwal rutin) untuk menggantikan seorang “Ukh” mengisi pengajian, maka secara terpaksa saya harus “mengganggu lagi” pekerjaan suami saya untuk mengantar dan menjemput saya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Karena saya memang tidak berani mengendarai sepeda motor sendiri, selain itu di kota kami yang kecil ini hanya “becak” yang biasa mengantar kami ke mana-mana. Untuk mencapai tempat yang dekat saja mungkin tidak ada masalah, bagaimana dengan tempat yang jauh? Selain itu, sebagai istri, saya juga harus bisa mengatur pengeluaran keluarga dengan berhemat, yaitu dengan menggunakan “kuda” kami ke tempat tujuan yang masih bisa dijangkau.

Namun, sebagai seorang istri yang mendamba syurga Allah, saya menyadari bahwa suami saya pun punya jadwal pribadi untuk memenuhi kebutuhan ruhi, fikri dan jasadi. Ditambah lagi amanah yang dipikul oleh suami tidak bisa dikatakan ringan. Amanah mencari ma’isyah ditambah amanah-amanah dakwah yang cukup menyita waktunya. Seolah-olah waktu yang sehari 24 jam, sepekan 7 hari itu itu masih kurang dengan seabrek aktivitas yang tak kunjung selesai.

Sering saya merenung apakah saya sudah terlalu membebani suami saya dengan hal-hal kecil yang semestinya bisa saya kerjakan sendiri? Karena label ummahat manja sudah terlanjur melekat pada diri saya? Kadang saya membela diri, “Ah, masih banyak kok ummahat lain yang lebih manja dari saya, ada yang bahkan sebagian besar tugas kerumahtanggaan malah dikerjakan oleh suami tercintanya. Mencuci, menyetrika, mengepel, bahkan memasak. Tidak jarang suami juga ‘terjun bebas’ dalam kegiatan mengasuh anak, mulai dari memandikan, menyuapi, mengajar mengaji, belajar mata pelajaran di sekolah sampai menidurkan anak.”

Kasus terbaru yang sempat membuat saya terperangah dan terbengong-bengong adalah ada seorang ummahat yang mungkin karena kadar ketergantungan pada suaminya cukup tinggi, ketika sang suami ke luar kota beliau kewalahan menangani dua buah hatinya. Sang buah hati tak bisa didiamkan atau meredakan tangisnya ketika bertengkar (biasanya berebut mainan, dan lain-lain) dengan kakaknya kalau bukan dengan ayahnya. Parahnya, si buah hati baru bisa tenang ketika didamaikan oleh tetangganya sampai-sampai si tetangga harus membatalkan janji yang sudah dibuatnya demi untuk menemani si ummahat menghabiskan malam. Nah loh!?

Saya jadi heran, sebenarnya tugas seorang ummahat itu apa, sampai-sampai semua hal dikerjakan oleh para suami? Memang tidak ada ayat al-Qur’an dan hadis nabi yang “mewajibkan” kita mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Semua itu merupakan wujud pengabdian kita pada Allah SWT semata dan usaha-usaha kita dalam memenuhi hak-hak suami kita.

Bolehlah sekali-kali suami membantu meringankan pekerjaan istrinya apalagi istri yang memang tidak hanya sebagai ibu rumah tangga saja, dia juga daiyah, tentunya sangat berat jika harus mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri. Suami bisa memberikan fasilitas yang memudahkan/ meringankan pekerjaan si istri. Tapi, jika kondisi ekonomi tidak memungkinkan suami bisa langsung turun tangan.
28 Mei 2015

Tetapi saya sangat tidak setuju jika ada ummahat yang tidak bisa mengendalikan perilaku dan emosi anak-anaknya. Memang benar kalau tanggung jawab merawat, mengasuh dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama suami istri. Tapi, saya masih sangat meyakini ikatan batin antara ibu dengan anak lebih kuat dibandingkan dengan ayahnya. Tentu saja karena sejak anak di dalam kandungan, kemudian dilahirkan, sampai anak besar, seorang ibu lebih sering berinteraksi dengan anak-anaknya sehingga jalinan emosi lebih kuat.

Bagaimana mungkin akhirnya kita “kalah” dengan suami kita dalam kemampuan menghadapi polah dan tingkah laku anak-anak kita. Bukankah hati seorang wanita, apalagi yang ummahat itu lebih halus dibanding laki-laki. Bukankah itu berarti sebagai seorang yang berperasaan halus kita akan lebih mampu menghadapi dan menangani “kenakalan-kenakalan” anak kita, yang mungkin saja itu merupakan tanda-tanda “kreativitas” mereka. Sehingga, kita dituntut punya stok kesabaran yang lebih banyak supaya kita bisa mengantarkan anak-anak kita pada tujuan yang ingin kita capai. Apakah kita akan menunggu sampai suami pulang kantor ketika anak kita sedang menjerit histeris padahal dia hanya membutuhkan dekapan sayang kita. Saya malu jika menjadi ummahat manja dalam hal ini. Wallahu a’lam. []

Sumber: Majalah Saksi, Jakarta

About Ummu Khadijah

Check Also

Jangan Tinggalkan Shalat

Tidak semua ibadah termasuk rukun Islam. Ini menunjukkan ibadah-ibadah yang termasuk rukun Islam adalah ibadah yang sangat penting dan urgen. Dan diantaranya adalah shalat.

Tinggalkan Balasan