Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Mutiara Hikmah dari Ibu Imam Syafi’i

0

Kebanyakan ibu saat ini menginginkan anaknya pulang ke rumah dengan membawa mobil, memiliki rumah dan memiliki harta dunia lainnya. Hal tersebut berbeda dengan para ibu ulama terdahulu.

Sebagian ibu masa kini malu pada tetangga jika anaknya mudik dengan “pas-pasan” dan si anak pun malu juga jika pulang tidak kelihatan “suksesnya”. Akhirnya banyak anak mobilnya hasil leasing, rumahnya KPR, belanja pakai kartu kredit. Riba pun belum bisa hilang dari kehidupan.

Berbeda dengan ibunya ImamSyafi’i yang tidak bangga dengan kekayaan anaknya

“Nak, pergilah menuntut ilmu untuk jihad di jalan Allah, kelak kita bertemu di akhirat saja.” Perintah ibunda Imam Syafi’i sebelum rihlah ( perjalanan menuntut ilmu). Kemudian Imam Syafi’i berangkat dari Makkah ke Madinah untuk belajar pada Imam Malik, kemudian ke Iraq.

Di Iraq, Imam Syafi’i bukan hanya satu atau dua tahun, ia tidak berani pulang ke rumah karena teringat pesan ibunya. (“kelak kita bertemu di akhirat saja”) sehingga sebelum ada izin dari ibunya ia tidak berani pulang ke rumah. Di Iraq beliau menjadi orang besar, ulama dan alim.

Suatu ketika ada halaqah besar di Masjidil Haram. Ada seorang ulama besar dari Iraq dalam perkataannya sering menyebut “Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata begini…”

Kemudian ibu Imam Syafi’i bertanya. “Ya Syaikh, siapakah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.” Syaikh itu menjawab, “Dia adalah guruku, seorang yang alim, cerdas, shaleh yang berada di Iraq. Asalnya dari Makkah sini..”

Kemudian ibu Imam Syafi’i berkata, “Ketahulai syaikh sesungguhnya Muhammad bin Idris Asy-Syafi’ adalah anakku.” Syaikh itu pun kaget dan tercengang. “Subhanallah, wahai ibu, benarkah hal itu?” “Ya benar, dia anakku,” Jawab ibu Imam Syafi’i.

Rombongan dari Iraq pun seketika menunduk, sebagai tanda hormat kepada ibu Imam Syafi’i. Kemudian syaikh tersebut berkata “Wahai ibu, sepulang dari haji ini kita akan kembali ke Iraq. Apa pesanmu kepada Imam Syafi’i?”

Kemudian ibunda Imam Syafi’i berkata: “Peasanku kepadanya, kalau dia sekarang ngin pulang. Aku mengizinkannya pulang.”

Spulang dari haji, Syaikh beserta rombongan Iraq pun menyampaikan pesan ibunda Imam Syafi’i kepadanya. Bahwa Ia sudah diizinkan untuk pulang jika ia berkehendak. Mendengar hal itu Imam Syafi’i sangat gembira.

Ini artinya Imam Syafi’i masih berkesempatan bertemu dengan Ibunya di dunia ini, walaupun sebelumnya ibunya berkata untuk bertemu di akhirat saja.

Imam Syafii tidak mengulur waktu, ia berkemas aga sesegera mungkin menemui ibunya.

Sbelumnya ia berpamitan kepada masyarakat Iraq setempa. Karena kealiman dan kemahsyuran beliau di Iraq, masyarakat yang mencintai dan mengagumi beliau, merasa simpati dan memberikan apa yang mereka punya dari kekayaan mereka.  Ada yang memberi unta, dinar dan lainnya. Walhasil, Imam Syafi’i membawa puluhan unta dan dikawal beberapa santri.

Sesampainya di perbatasan kota Makkah, Imam Syafi’i mengutus seorang santrinya agar mengabarkan kepada ibundanya bahwa saat ini beliau sudah di perbatasan kota Makkah. ( Hal seeprti ii termasuk sunnah, yaki mengabarkan ke rumah ketika sesorang mau pulang supaya pihak rumah mempersiapkan sesuatu, bukan membuat malah kejutan).

Kemudian santri Imam Syafi’i pun mengetuk pintu rumah. “Siapa itu?” Tanya ibu ImAM sYAFI’I. “Saya diutus Imam Syafi’i untuk menyampaikan bahwa beliau saat ini sudah berada di gerbang ota Makkah.” jawab santri tersebut.

Loading...

Lalu ibunda Imam Syafi’i berkata, “Syafi’i membawa apa?” Dengan bangga santri tersebut menjawab “Beliau pulang membawa puluhan unta dan harta lainnya.”

Mendengar penuturan itu ibunya menutup pintunya sambil berkata “Aku menyuruh Syafi’i ke Iraq bukan untuk mencari dunia! Beritahu kepada Sayafi’i bahwa dia tidak boleh pulang ke rumah.”

Menuruti perintah ibunda Imam Syafi’i, santri itu gemetar dan menyampaikan kepada Imam Syafi’i pesan ibunya. “Wahai Imam, sesungguhnya ibunda Anda bertanya, Syafi’i membawa apa? Kemudian aku menjawab kau membawa puluhan unta dan kekayaan lainnya..”

“Sungguh kesalahan besar dirimu, jika engkau menganggap ibundaku akan bahagia dengan harta yang kubawa ini. Baiklah sekarang kumpulkan orang Makkah dan bagikan semua unta dan kekayaan lainnya kepada mereka. Dan sisakanlah kitabku, setelah itu kabarkan kepada ibuku” Ujar Imam kepada santrinya.

Setelah membagikan hartanya dan hanya menyisakan kitab, Imam Syafi’i mengutus santrinya lagi untuk memberitahu kepada ibundanya. Santri tersebutpun menjelaskan kembali bahwa Imam Syafi’i hanya membawa ilmu dan kitab.

Ibunya pun senang dan berkata “Alhamdulillah, baiklah sekarang kabarkan kepada Syafi’i bahwa dia boleh pulang ke rumah dan dia aku tunggu.”

Ibu dan anak itupun bertemu. Syafi’i sangat bahagia dan terharu. Ia menciumi ibunya yang telah lama tidak bertemu tersebut. []

Sumber: Kajian Ustad Mukhlis disampaikan oleh Hilda Nur Habibah



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline