Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Meninggal Pasca Melahirkan, Syahidkah?

0

Setiap ibu yang mengandung pasti mengaharapkan anaknya terlahir shaleh dan shalehah. Namun melahirkan bukanlah proses yang mudah. Tidak sedikit ibu yang menghebuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan anaknya.

Banyak yang berkata bahwa perempuan yang meninggal saat melahirkan adalah seorang syuhada (perempuan yang mati syahid). Lantas apakah hal tersebut memiliki nash yang kuat atau hanya mitos? Berikut uraian Ust. Muhammad Muafa, M.Pd (Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI), Malang-Jawa Timur mengenai hal tersebut.

 

Memang benar, wanita yang wafat karena melahirkan, atau karena nifas, atau karena hamil semuanya bisa diharapkan (tidak boleh dipastikan) mendapatkan pahala mati syahid berdasarkan sejumlah nash. Diantaranya adalah hadis berikut ini;

Dari Rasyid bin Hubais, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menemui ‘Ubadah bin Shamit untuk menjenguknya ketika dia sakit. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Apakah kalian tahu, siapa yang diistilahkan syahid di antara umatku?” Semua terdiam.

‘Ubadah berkata; “Sandarkanlah saya”, mereka pun menyandarkannya. Lalu Ubadah berkata; “Wahai Rasulullah, yang dinamakan syahid adalah orang sabar yang mengharapkan balasan dari Allah”.

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kalau begitu orang yang syahid dari ummatku sangat sedikit, padahal orang yang terbunuh di jalan Allah Azzawajalla adalah syahid, orang yang mati terkena wabah adalah syahid, orang mati tenggelam adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid, wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya, anaknya menariknya dengan tali pusar untuk masuk ke surga”. (H.R. Ahmad)

Hadis lain yang menunjukkan adalah riwayat An-Nasai berikut ini;

Dari ‘Uqbah bin Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lima hal yang jika seseorang mati pada sebagian darinya maka ia syahid, yaitu orang yang terbunuh dijalan Allah adalah orang yang syahid, orang yang tenggelam dijalan Allah adalah orang yang syahid, orang yang sakit perut dijalan Allah adalah orang yang syahid, orang yang terkena terkena sakit pes dijalan Allah adalah orang yang syahid, dan orang yang mati ketika melahirkan di jalan Allah adalah orang yang syahid.” (H.R. An-Nasai)

 

Ibnu Majah pun meriwayatkan; Dari Abdullah bin Abdullah bin Jabri bin ‘Atik dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa ia sedang sakit, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk menjenguknya, seseorang dari keluarganya berkata; “Kami mengharapkan agar kematiannya dengan terbunuh secara syahid di jalan Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika demikian umatku yang mati syahid hanya sedikit, seseorang yang terbunuh di jalan Allah adalah orang yang mati syahid, penderita lepra mati syahid, wanita yang meninggal dunia karena melahirkan juga syahid, orang yang mati tenggelam, kebakaran dan orang yang menderita selaput dada juga adalah syahid.” (H.R. Ibnu Majah)

Dawud dan Nasa’i pun meriwayatkan hal serupa, sebagaimana riwayat lainnya yang menegaskan kesyahidan wanita yang meninggal pasca melahirkan.

Namun syahid yang dimaksud di sini adalah syahid akhirat saja, bukan syahid dunia-akhirat. Hal itu dikarenakan mati Syahid ada tiga macam, yaitu:

1. Syahid dunia Akhirat adalah Muslim yang gugur di medan perang/Jihad untuk meninggikan Kalimatullah.

2. Syahid Akhirat saja adalah orang-orang yang wafat karena sebab-sebab yang dinyatakan oleh Nash seperti sakit perut/diare, tertimpa reruntuhan, terbakar, tenggelam, melahirkan dll sehingga mendapatkan pahala mati Syahid namun tetap diperlakukan seperti mayat Muslim pada umumnya, yakni dimandikan, dan dishalati.

3. Syahid dunia saja bermakna orang yang gugur dalam Jihad tetapi niat Jihadnya bukan karena Allah, seperti berjihad karena Riya’, Sum’ah, mendapat Ghonimah dll. Syahid golongan ini diperlakukan seperti Syahid dunia Akhirat dari segi tidak dimandikan dan tidak dishalati, tetapi di Akhirat tidak mendapatkan apa-apa.

Disyaratkan pula hendaknya dia memenuhi syarat-syarat diperolehnya pahala mati Syahid seperti; Muslim, Shobr (tabah/tegar) saat menghadapi musibah tersebut, dan Ihtisab (mengharap pahala). Dia juga harus  menghindari hal-hal yang menghalangi diperolehnya pahala mati Syahid seperti hutang, Ghulul (korupsi Ghanimah), merampas hak orang, mati dalam kondisi bermaksiat dll. []

Loading...

Sumber: SuaraIslam



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline