Breaking News
gambar: pinterest

Sering Selfie Bisa Jadi Kelainan, Masa Sih?

Sebuah penelitian dari Frontier Consulting Grup  menyebutkan bahwa 97,5% pengguna media sosial adalah mereka yang berusia 13 hingga 18 tahun, atau mereka yang duduk di bangku SMP dan SMA.

Berbagai fasilitas ‘mewah’ yang ditawarkan, menempatkan media sosial sebagai pilihan paling nyaman bagi remaja untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan. Tiap menit, rata-rata status di akun media sosial remaja berganti.

Ekspresi itu dapat tercurah lewat kata-kata (update status), video, audio, maupun foto. Uniknya, tren foto selfie malah menjangkiti hampir seluruh pengguna media sosial.

 

Para ahli mengklaim bahwa seseorang atau beberapa orang yang dengan berlebihan mengambil foto diri mereka sendiri, maka kemungkinan mereka sedang mengalami Body Dysmorphic Disorder (BDD).

Veale menyatakan bahwa dua dari tiga pasien BDD memiliki keharusan untuk berulang kali mengambil gambar dan memasukkan foto tersebut di media sosial.

Penggemar selfie dengan pengidap BDD dapat menghabiskan waktu berjam-jam dalam mencoba mengambil gambar yang tidak menunjukkan cacat atau kekurangan pada penampilan mereka, yang mereka sadari dan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Ahli lain mengatakan bahwa keasyikan dengan selfie bisa menjadi tolak ukur masalah mental lainnya pada orang muda (remaja), khususnya pria.

Dalam Islam, kita tidak dianjurkan untuk berbuat demikian. Namun bukan pula melarang untuk berfoto secara keseluruhan karena pada dasarnya foto merupakan pemidahan objek.

Islam adalah agama yang mengedepankan rasa malu. Sebagai manusia, kita diperintahkan untuk menjaga iffah (kemuliaan diri). Ust. Felix Siauw dalam akun Facebooknya menyebutkan bahwa selfie itu kebanyakan berujung pada takabbur, riya’, dan sedikit ujub.

Bila berselfie, lantas membanding-bandingkan foto kita dengan foto orang lain, merasa foto kita lebih baik atau lebih keren daripada foto orang lain, maka hal ini memungkinkan seseorang untuk takabbur.

Bila berselfie, kemudian mengunggah ke media sosial dengan harapan mendapat like, comment, share, ataupun sekedar view dengan kuantitas yang besar, bahkan merasa senang berlebihan atas sederet pilihan ‘apresiasi’ bak selebriti, maka hal ini khawatirnya bermuara pada riya’.

Terakhir, bila ber-selfie lalu takjub dengan hasil foto itu, bahkan berulang kali menghapus foto kurang bagus guna mendapatkan pose terbaik, mengagumi hasilnya dan mengagumi diri sendiri setelahnya, maka bisa jadi hal tersebut jatuhnya pada ujub. Waspadalah!

Padahal, sebagai pemegang tongkat estafet pelanjut peradaban bangsa, seyogyanya remaja tidak lebih disibukan dengan aktivitas selfie di media sosial yang bisa saja membuatnya mengalami BDD. Pemanfaatan media sosial dengan postingan karya konstruktif merupakan kondisi yang amat dinantikan dari generasi muda.

Oleh: Hasni Tagili, S. Pd., M. Pd (dengan beberapa penyesuaian)

Sumber:muslimahzone

About Karisa Pyeli

Check Also

HP, Menggerus Remaja

Jikapun yang mereka bicarakan, tak lupa juga lebih banyak membahas tentang fitur HP yang canggih dan terbaru.

Tinggalkan Balasan