Breaking News
bayi lahir prematur, pengaruh bencana
Foto: Access 2 Knowledge

Hukum Gugurkan Janin dengan Potensi Disabilitas

Saat ini kita dapat dengan mudah mengetahui kondisi janin di dalam rahim dengan bantuan USG. Selain jenis kelaminnya bahkan kita dapat menegtahui bahwa bayi tersebut akan lahir sebagaimana pada umumnya atau menyandang disabilitas.

Mengetahui hal tersebut, apakah boleh orang tua memilih menggugurkan bayinya dengan alasan khawatir sang anak akan mengalami kesulitan jika dibiarkan hidup?

Sebelum berbicara masalah ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk memahaminya. Bahwa peniupan ruh, itu terjadi setelah janin berusia 120 hari dalam kandungan.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Sesungguhnya penciptaan kalian terjadi di perut ibunya, selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu (40 hari) juga – total 120 hari atau 4 bulan – kemudian diutuslan malaikat kepadanya, dia meniupkan ruh ke janin itu, dan diperintahkan untuk mencatat 4 hal: rizqinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia kelak bahagia atau celaka….” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadits ini merupakan dalil yang dzahir bahwa peniupan ruh terjadi setelah janin berusia 120 hari. Batasan ini menjadi penting dalam membahas masalah ini.

 

Sebenarnya, masalah ini – menggugurkan janin yang cacat – telah dibahas di majlis Komite Ulama Besar KSA, dan Majma’ Fiqh Islami di bawah Rabithah Alam Islami. Dihasilkanlah keputusan dari Majlis Komite Ulama dan keputusan dari Majma’ Fiqh. Kedua keputusan, tidak jauh berbeda dalam menetapkan hukumnya secara syariat.

Berikut penjelasan rincinya,

1. Tidak boleh menggugurkan kandungan untuk semua fase kehamilan, kecuali karena ada alasan yang dibenarkan secara syariat. Sementara menggugurkan kandungan, karena khawatir terlalu berat dalam mengasuh anak, atau tidak mampu menanggung kehidupan mereka, atau merasa cukup dengan anak yang sudah dimiliki dan tidak mau memiliki anak lagi, maka ini semua tidak dinilai sebagai pembenar yang diizinkan syariat.

2. Jika kandungan telah berusia 120 hari, tidak halal untuk digugurkan, meskipun menurut prediksi dokter disimpulkan bentuknya cacat. Karena pada usia ini telah ditiupkan ruh kedalam janin, dan telah menjadi manusia. Sehingga menggugurkan janin pada usia ini hakekatnya adalah membunuh manusia.

3.  Sebelum menginjak usia 120 hari di kandungan, janin berada pada fase segumpal darah dan daging. Apabila dokter menetapkan bahwa pada fase itu janin mengalami cacat yang membahayakan, tidak mungkin bisa disembuhkan, dan jika dibiarkan hidup maka kondisi hidupnnya buruk, menjadi masalah baginya dan bagi keluarganya, maka dalam kondisi ini boleh digugurkan, sesuai dengan permintaan orang tua. Karena janin pada fase ini belum ditiupkan ruh, dan belum disebut manusia.

4. Pada fase 40 hari pertama, boleh digugurkan jika terdapat maslahat yang mendesak secara syariat, atau untuk menghindari bahaya yang pasti terjadi. Diantaranya adalah jika janin ini dibiarkan hidup, akan cacat secara fisik.

Dari penjelasan di atas, para ulama sangat keras menentang tindakan menggugurkan janin setelah berusia 120 hari, kemudian pada fase kedua, fase mudhghah dan ‘alaqah, mereka mengambil sikap keras menentang, namun tidak sebagaimana yang pertama. Adapun pada fase 40 hari pertama, mereka tidak banyak mengambil sikap keras dalam masalah ini.

Allahu a’lam

Demikian, keterangan Syaikh Dr. Sa’d Al-Khatslan Anggota Majlis Haiah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar), KSA. Beliau juga menjadi anggota islamic international foundation for economic and finance. []

Sumber:artikelmuslimah

About Karisa Pyeli

Check Also

Mengajarkan Adab Masuk Kamar Mandi pada Anak

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki kamar mandi, lalu dia mengucapkan 'bismillah'

Tinggalkan Balasan