Breaking News
Foto: Shutterstock

Hati-hati Terlampau Bangga Pada Anak, Ini Sebabnya

Percakapan yang sering terjadi antar orang tua adalah mengenai anak-anaknya. “Anak saya masuk Univ favorit loh.”; “Anak saya sudah bisa membaca, padahal masih 3 tahun.”; “Anak saya juara lomba lari.” , dan masih banyak lagi percakapan yang ditujukan untuk membanggakan anaknya.

Hal itu tidak menjadi masalah jika memang tidak diniatkan untuk berbuat sombong. Namun tak jarang perilaku tersebut menimbulkan hasad di hati orang lain. Terlebih lagi bila tanpa sengaja orang tua yang membanggakan anak tersebut justru membandingkan anaknya dengan anak lawan bicaranya.

Ada beberapa kemudharatan yang dapat timbul dari perilaku membanggakan anak, sebagaimana dituliskan Miyosi Ariefiansyah. Kemudharatan tersebut diantaranya adalah:

1. Menimbulkan rasa iri dari orang yang mendengarnya meskipun itu hanya dalam hati

Ada banyak cara untuk menginspirasi orang lain yang tidak terkesan pamer. Orang lain justru akan muak jika kita selalu bercerita “kalau anakku … kalau anakku …” Kapan kita bertanya tentang anak orang lain kalau begitu? Bukankah dunia ini isinya tidak hanya kita saja? Seperti misalnya, daripada selalu bercerita anak kita rangking satu dan masuk sebagai siswa berprestasi akan lebih baik jika langsung buka les-lesan gratis bagi anak-anak sekitar rumah yang kurang beruntung.

2. Justru menjadi beban untuk diri kita sendiri

Tidak selamanya anak kita berada pada posisi puncak, ada kalanya mungkin di tengah atau di bawah. Jatuh bangun memang biasa di dunia ini. Tapi hal tersebut akan menjadi tidak biasa bagi yang suka pamer karena ia akan terus berusaha mempertahankan posisi teratas entah dengan cara apa saja agar tidak jadi bahan olokan.

3. Di atas langit masih ada langit

Seperti kata pepatah, “di atas langit masih ada langit,” Jangan biarkan anak kita menjadi sombong karena kebanggaan kita. Dan melupakan bahwa ia harus tetap berusaha.

4. Kurang menghargai orang lain yang “berbeda”

Setiap anak itu unik dan berbeda. Sebenarnya hampir seluruh orang tua mengetahuinya. Hanya saja dalam praktiknya, orangtua seolah masih sulit menerima yang berbeda, salah satunya dengan merasa apa yang dipilih anaknya jauh lebih baik daripada apa yang dipilih anak orang lain.

Jika memamerkan anak ditujukan untuk memotivasi orang lain. Lakukan hal tersebut diiringi tindakan nyata. Agar dapat menjadi solusi bagi orang lain. Bukan justru menjadi luka hati bagi mereka. []

Sumber: Ummi Online.com

 

About Karisa Pyeli

Check Also

hambatan belajar anak

Apakah Anak Anda Alami Depresi?

Sama seperti orang dewasa anak-anak mengalami perubahan perasaan. Mereka bisa merasa bosan, cemas, sedih, kecewa, malu, dan takut. Orang dewasa yang memiliki kematangan psikologis cenderung tahu bagaimana mengontrol perasaan-perasaan tersebut. Sementara anak-anak, cenderung belum bisa mengontrol dan mengelolanya dengan cara yang baik dan sehat. Penting untuk mengajari mereka keterampilan menghadapi ketakutan, menenangkan diri, dan menghibur diri.

Tinggalkan Balasan