Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Ibadah Sa’i, Abadikan Kisah Ikhtiar Seorang Ibu

0

Puluhan abad silam bukit Shafa dan Marwah telah menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu dalam menyelamatkan anaknya. Yakni kisah Hajar dan Ismail. Istri dan putra nabi Ibrahim.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Sarah istri nabi Ibrahim merelakan suaminya untuk menikah dengan Hajar, karena ia belum mampu memberikan keturunan untuknya. Namun, ketika Hajar memiliki putra (Ismail), timbul kecemburuan dalam diri Sarah. Ia meminta agar Hajar tidak lagi berada disekitarnya. Kemudian, turunlah wahyu kepada Nabi Ibrahim supaya Ia bersama-sama dengan anak dan istrinya (Ismail dan Hajar) pergi ke Makkah. Tempat yang tak berenghuni dan sangat tandus.

Hajar merasa sedih ditinggalkan ditempat tak berpenghuni. Ia pun bertanya pada suaminya “Hendak ke manakah engkau Ibrahim? Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di tempat yang sunyi dan tandus ini?”

Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun juga. Hajar bertanya lagi, “Adakah ini memang perintah dari Allah?” Barulah Nabi Ibrahim menjawab, “ya.”

Setelah mendengar bahwa itu adalah perintah Allah. Hajar merasa tenang. Diameyakini apabila itu perintah Allah pasti dirinya dan bayinya akan baik-baik saja. Sebab siapa lagi yang jaminannya lebih tinggi dibanding jaminan Allah?

Keshalihahan Hajar pun berbanding lurus dengan ketaatan Ibrahim. Kecintaannya pada Allah melebihi kecintaannya pada istri dan anaknya yang sangat ia idam-idamkan. Ia pun berdo’a , ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim:37).

Ismail yang masih menyusu mulai menangis karena kehausan. Sdangkan ibunya sudah tidak mampu mengeluarkan ASI karena dehidrasi. Dengan keyakinan pada Allah, Hajar pergi mencari air pulang pergi dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.

Saat kali ketujuh (terakhir), ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya di bawah telapak kaki Ismail. Air itu adalah air zam-zam.

Di lokasi ini pula,  Hajar mendengar suara malaikat Jibril dan berkata kepadanya, “Jangan khawatir, di sini Baitullah (rumah Allah) dan anak ini (Ismail) serta ayahnya akan mendirikan rumah itu nanti. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.” []

Sumber: http://www.republika.co.id

 



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline