Breaking News
Foto hanya ilustrasi. Foto: Google Image

Menyedekahkan Harta Suami Tanpa Ijin, Bolehkah?

Bersedakah Allah sangat menganjurkan umat Islam untuk melakukannya. Sebab, banyak keutamaan yang terdapat di dalamnya, seperti membersihkan harta yang dimiliki dan saling berbagi dengan sesama atau memupuk semangat untuk saling mengasihi dengan orang yang membutuhkan.

Karena besarnya keutamaan itu, sudah sepantasnya bila setiap umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakannya. Namun, bagaimana bila harta yang dimiliki untuk bersedekah itu bukan milik pribadi, tetapi milik bersama.

Misalnya, harta yang diperoleh oleh suami, apakah diperbolehkan seorang istri memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, sementara suaminya tidak mengetahuinya (belum ada izinnya)?

Dalam hal ini, para ulama berselisih paham. Sebagian menyatakan bahwa haram hukumnya seorang istri mengeluarkan atau membelanjakan harta suami tanpa seizin suami. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya kendati orang tuanya sedang sekarat.

Dalam kitab Al-Faqih jilid III dijelaskan bahwa seorang istri harus tunduk dan patuh terhadap suami. “Istri harus patuh dan tidak menentangnya. Tidak menyedekahkan apa pun yang ada di rumah suami tanpa izin sang suami. Tidak boleh berpuasa sunah kecuali dengan izin suami. Tidak boleh menolak jika suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan. Tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dengan izin suami,” (Al- Faqih, 3:277).

Begitu pentingnya perhatian istri terhadap hak-hak suami, Rasulullah bersabda, “(Ketahuilah) bahwa perempuan tidak pernah akan dikatakan telah menunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikan kewajibannya kepada suami,” (Makarim Al-Akhlaq: 215).

Dari Abu Umamah, ia menceritakan, aku pernah mendengar Rasul bersabda ketika beliau berkhutbah pada pelaksanaan haji wada. “Tidak diperbolehkan bagi perempuan Muslimah meng infakkan sesuatu dari rumah suaminya, kecuali de ngan seizinnya.

Kemudian ditanyakan kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, termasuk juga makanan?” Beliau menjawab; “Itu merupakan harta kita yang berharga,” (HR Tirmidzi, dan hadis ini menurutnya hasan).

Riwayat lainnya adalah hadis yang bersumber dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya),” (HR Nasai No 3756, Ibnu Majah No 2388, Abu Dawud No 3546).

Ulama lainnya juga ada yang membolehkan seorang istri bersedekah kendati tanpa sepengetahuan suaminya. Dari Ayyub, aku mendengar Atha’ berkata bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas bercerita,

“Aku bersaksi bahwa Nabi pergi ditemani Bilal saat shalat Id. Nabi mengira bahwa para perempuan tidak mendengar khutbah yang beliau sampaikan. Oleh karena itu, Nabi nasihati mereka secara khusus dan Nabi perintahkan mereka supaya bersedekah. Para perempuan pun melemparkan anting-anting dan cincin mereka ke arah kain yang dibentangkan oleh Bilal dan Bilal memegang ujung kainnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lainnya dijelaskan bahwa Siti Aisyah menceritakan Rasul bersabda,

“Apabila seorang perempuan berinfak dari makanan yang berada di rumahnya dengan tidak menghabiskannya, ia akan mendapatkan pahala atas apa yang diinfakkannya itu dan suaminya pun juga mendapatkan pahala yang sama atas usahanya mencari rezeki itu. Begitu pula dengan pegawainya (yang memasak) juga mendapatkan pahala yang sama, di mana masing-masing tidak mengurangi pahala yang lain,” (HR Bukhari).

Dengan kedua sumber di atas, sudah selayaknya bagi setiap perempuan Muslim untuk memperbanyak amal ibadahnya, termasuk berinfak atau sedekah. Dan akan semakin baik lagi bila dia meminta izin suaminya untuk memberikan sedekah itu. Wallahu A’lam. []

 

Sumber: Khazanah republika 



Artikel Terkait :

About Eppi Permana Sari

Check Also

Sebaiknya Lakukan Hal Ini saat Mendengar Adzan

Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali.

Tinggalkan Balasan