Breaking News

Musibah, Ujian, atau Azab?

“Kemelut-kemelut masa itu banyak, tak ada habisnya. Sedang kebahagiaan datang berkala bak hari raya,” (Imam Syafi’i).

Kalam hikmah Imam Syafi’i di atas rasanya tepat menggambarkan situasi yang dialami oleh sebagian banyak saudara-saudara kita: Musibah silih berganti menerpa. Banjir menghanyutkan barang berharga.

Api menghanguskan harta benda. Angin kencang menumbangkan segalanya. Sanak keluarga menjemput ajal di jalan raya. Kemiskinan merajalela. Belum lagi problem jiwa yang tak terlihat oleh banyak mata namun terasa begitu menyiksa. Tiada hari tanpa musibah, hingga seolah kebahagiaan datang berkala bak hari raya.

Setiap hari media menyiarkannya. Para ahli mengemukakan pendapat dan bela sungkawa. Pada umumnya, mereka berkata, “Segala musibah yang terjadi adalah ujian dari Allah Ta’ala.”

Di sini kita sering lupa, bahwa musibah tidak hanya sebagai ujian, melainkan juga sebagai penawar dosa, atau bahkan sebagai balasan dan siksa. Bagaimana kita mengetahuinya, sehingga bisa tepat menyikapinya?

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, sebagaimana dikutip oleh al-Munawi dalam Fayd al-Qadir (1/254), mengungkapkan tanda-tandanya:

Jika musibah sudah tak sanggup kita emban, hingga timbul kegundahan, kebuntuan pikiran dan keluhan secara tidak proporsional, itu menandakan bahwa musibah tersebut merupakan balasan dan azab atas dosa-dosa yang kita lakukan.

Di sini, Allah ingin menegur kita agar sadar dan kembali kepada-Nya. Sikap kita adalah introspeksi diri dan bertobat nasuha.

Jika musibah sanggup kita hadapi dengan sabar, tanpa keluhan dan kegundahan yang berlebihan, serta ringan melaksanakan ketaatan, maka itu pertanda bahwa musibah tersebut sebagai penawar dosa dan kesalahan.

Allah ingin menyucikan kita dari kotoran dosa-dosa yang telah lalu. Sikap kita adalah terus bersabar dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Jika kita rela dengan musibah yang menimpa, senang dan tenang menghadapinya, terasa ringan oleh jiwa dan raga, itu menandakan bahwa musibah tersebut sebagai bentuk kecintaan Allah kepada kita. Kita diuji agar derajat kita naik di sisi-Nya. Inilah yang dimaksud oleh hadis Nabi,

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia mengujinya,” (HR. Baihaqi).

Karenanya, kita sambut cinta-Nya dengan istikamah menghamba, rida dan syukur atas segala bentuk takdir-Nya. []

 

 

 

Sumber: Ummi



Artikel Terkait :

About Eppi Permana Sari

Check Also

Sebaiknya Lakukan Hal Ini saat Mendengar Adzan

Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali.

Tinggalkan Balasan