Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Kisah Pemudi Idaman Bertemu dengan Pemuda Idaman

0

Kisah ini adalah tentang seorang gadis yang teramat sangat cantik. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga ke negri-negri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedkit yang pernah mendengar suarnya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya.

Dia adalah seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga. Sebagaimana sewajarnya sang gadis juga memendam rasa cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak.

Hanya karena sebuah kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf di zaman ini. Bahwa akhlaknya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketakwaannya telah berulang kali teruji.

Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan do’a para ibu yang merindukannya menjadi menantu. Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu.

Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu.

Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.

Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban “Ya” katanya.

Akhirnya mereka bertemu di suatu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada.

Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa jauh dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya.

Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikiankah kebiasaan yang ada pada keluarganya. “Maha suci Allah” kata si gadis sekilas kembali memandang, “Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukan wajahnya “Andai saja kau lihat aku Sesudah tiga hari dikuburkan.” Katanya. “Ketika cacing berpesta membusukkanku. Ketika ulat-ulat bersarang di mata ku, ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara janganlah kau tertipu olehnya.”

Gadis itu berkata “Betapa inginnya au meletakan jemariku dalam genggaman tanganmu.” Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu.” Kemudian ia melanjutkan, “Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakitdan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Kemudian si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahuah engkau, telah lama aku  dilanda rindu, takut, sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakan kepalaku di dadamu yang berdegup.Agar berkurang beban-bebanku selama ini agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahanku.”

Pemuda itu menjawab “Jangan lakukan itu kecuali dengan hak nya, sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. kecuali mereka yang bertakwa.”

Mengenai kisah tersebut Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan berkomentar, “Apa yang bisa lita pelajari dari kisah tersebut?” “Kita lihat bahwa sang pemuda demkian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah. Namun (kata beliau memberi catatan).”

“Dalam kisah indah ini tanpa sadar kita melupakan suatu hal. Bahwa sang pemuda an gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda dan gadis mencampur adukan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan dakwahnya dalam atmosfer yang ternoda.

Loading...

Dan dampaknya bisa kita lihatdalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan dakwahnya. Bahkan ia semakin berani dalam mengajukan kata-kata. mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat tngkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.

Ya, dia sama sekali tidak memperhatikan kalimat dakwah sang pemuda. Kesalahan itu kata Syaikh, telah terjadi sejak awal. apa itu? mereka telah berkhalwat! berduaan bersendirian. Mereka telah mengabaikan pesan Allah lewat lisan suci Nabi “Jangan mendekati zina!”

Sang pemuda memang sedang bedakwah namun dakwahnya adalah dakwah dusta.

Mari memetik hikmah dari kisah ini. []

Sumber : banyak beredar di whatsup kami kesulitan mencari sumber utamanya, semoga penulis di rahmati Allah.



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline