Breaking News
gambar: republika

Dalam Islam, Bolehkah Mencium Tangan untuk Menghormati Seseorang?

Mencium tangan sudah menjadi kebiasaan dalam bersopan santun di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menghormati seseorang misalnya guru atau orang tua. Sebelum berangkat ke sekolah anak-anak sudah diajarkan ntuk mencium tangan kedua orang tuanya. Kemudian sesampainya di sekolah ia diajarkan mencium tangan guru-gurunya.

Dalam Islam sendiri hal ini pernah sering dicontohkan. Sebagaimana terdapat dalam hadist “Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]). Dalam hadist lain “Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).

Terkait mencium tangan orang tua pernah dilakukan oleh Fatimah putri tercinta Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Aisyah bahwa ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya dengan Rasulullah melainkan fatimah, jika fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang fatimah mencium tangan Rasulullah” (HR. Abu Dawud)

Banyak pula ulama yang memperbolehkan hal ini. Salah satunya adalah Syaikh Ibnu ‘Ustaimin. Ia berkata, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.”

Namun tetap ada syarat yang harus dipenuhi. Sebagaimana dikatakan, syeikh Al-AlBani rahiamhullah yang dikutip dari muslim.or.id beberapa syarat dalam mencium tangan kepada seorang alim, yakni sebagai berikut:

  1. Tidak dijadikan kebiasaan, yakni tidak menjadikan si alim tersebut terbiasa menjulurkan tangannya kepada para murid dan tidaklah murid untuk mencari berkahnya, ini karena Nabi jarang tangannya dicium oleh para sahabat, maka ini tidak bisa dijadikan sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus sebagaimana yang kita ketahui dalam Qawaidul Fiqhiyah
  2. Tidak menjadikan seorang alim sombong, dan melihat dirinya hebat.
  3. Tidak menjadikan sunnah yang lain ditinggalkan, seperti hanya bersalaman, karena hanya bersalaman tanpa cium tangan merupakan perintah Rasul. []

Sumber: https://muslim.or.id



Artikel Terkait :

About Karisa Pyeli

Check Also

Mengajarkan Adab Masuk Kamar Mandi pada Anak

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki kamar mandi, lalu dia mengucapkan 'bismillah'

Tinggalkan Balasan