Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Dalam Mendidik Anak, Ayah Jangan Hanya Jadi Sponsor

0

Sudah menjadi pemikiran yang cukup mengakar pada sebagian masyarakat Indonesia. Mendidik anak adalah tugas mutlak seorang ibu. Sementara peranan seorang ayah adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Ayah cenderung mengambil peran dibalik layar. Seorang ayah jarang terlibat langsung dalam urusan mendidik anaknya. Sehingga Indonesia dikatakan sebagai fatherless country atau negara tanpa ayah. Maksudnya adalah bukan keberadaannya yang tidak ada melainkan kontribusi dalam menjalankan peranan sebagai ayah sesungguhnya yang mulai terkikis.

Seperti dikutip dari  laman UmmiOnline.com, Naomi Soetikno, M.Pd, Psikolog, praktisi sekaligus konsultan psikologi klinis dan pendidikan, menjelaskan, peran ayah dalam pengasuhan anak (fathering) sama pentingnya dengan peran ibu. Lebih lanjut Naomi menyebutkan, banyak riset menunjukkan bahwa dengan adanya ayah yang turut berperan serta dan aktif dalam pengasuhan anak akan memberikan keuntungan  besar bagi perkembangan anak.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Michael Lamb, psikolog dari University of Cambridge, Inggris saat melakukan riset mengenai hubungan ayah dan anak. Ia mengatakan, “Pada balita usia 0-2 tahun, bermain bersama ayah akan membantu perkembangan sensor motorik mereka. Sedangkan pada balita usia 2-5 tahun akan membantu perkembangan logika mereka.  Anak yang banyak bermain bersama ayahnya, logika dalam berpikir akan lebih jalan dan lebih mudah bersosialisasi. Sedangkan anak yang lebih dekat dengan ibunya akan menjadi anak yang lebih hangat disebabkan sifat ibu yang lebih ‘ngemong’. Tentunya akan sangat baik jika anak dekat secara emosional dengan kedua orang tuanya,” jelas dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, ini.

Pada usia inilah pembentukan karakter anak dibentuk, sebagaimana dikatakan Ibnu Sina, “Ketika si anak sudah disapih maka pembentukan karakternya dimulai, ahlaknya dilatih, sebelum ia diserang oleh perangai yang tercela.” Artinya peranan ayah adalah yang penting juga untuk membentuk karakter anak.

Sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Beliau pun turut membantu peran Ali sebagai ayah dari cucu-cucunya pada usia ini. Seperti diriwayatkan Rasulullah saw meggendong mereka masing-masing diatas pundak kanan dan kiri. Aku berujar,”Betapa beruntungnya kalian berdua. Da sebaik-baikorang adalah orang yang sedang kalian naiki.” Rasulullah saw pun bersabda, “Sebaik-baik penunggang adalah mereka berdua meski ayah mereka lebih baikk dari mereka.” (H.R Ath Thabrani[2677]). Hal tersebut menunjukan pentingya peranan laki-laki bagi seorang anak.

Ibu dalam Islam memang merupakan madrasah pertama bagi anak, tetapi ayah juga memiliki peranan yang sangat penting dalam mendidik anak. Jangan sampai hubungan anak dan ayah hanya berupa hubungan material tanpa ikatan batin yang kuat. []

Sumber:

 http://ummionline.com

Cara Nabi Mendidik Anak Perempuan, Misan usan dan Armmansyah, Pro U media: Jogjakarta, 2016

 

 



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline