Breaking News
gambar : gambar keren sebagai walpaper

Bolehkah Memanggil “Umi” dan “Abi” kepada Pasangan?

Sesudah menikah banyak pasangan yang memanggil satu sama lainnya, umi dan abi, kakak dan adik, mamah dan papah, atau ayah dan bunda. Ada yang mengatakan panggilan tersebut tidak diperbolehkan karena merupakan dzihar atau menyerupakan pasangan dengan anggota keluarga.

Sebagaimana dikatakan dalam firman Allah, Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al Mujaadilah: 2-4)

Pada masa jahiliyah panggilan dzihar adalah termasuk talak. Shingga sebagian berpendapat jika digunakan saat ini juga termasuk talak, meskipun maksudnya berbeda.  Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berpendapat,“Dimakruhkan seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan nama mahramnya seperti ‘wahai ibuku’, ‘wahai saudaraku (mari dek)’ atau semacam itu. Karena seperti itu berarti menyerupakan istri dengan mahramnya.”

Sedangkan dalam keterangan lain dikatakan bahwa memanggil dengan panggilan seperti itu tidak termasuk zhihar yang terlarang dalam ayat. Karena yang termasuk dzihar dalam ayat tersebut adalah mendzhihar secara tegas seperti engkau seperti punggung ibuku, kemudian dzhihar kinayah yaitu tidak tegas seperti engkau bagiku seperti ibu dan adikku. kemudian urusan ini perlu dilihat dari niatnya. Jika diniatkan zhihar, maka termasuk zhihar. Namun jika maksudnya menyerupakan dengan ibu dan adik dari sisi kemuliaan, maka tidak termasuk zhihar. Ketika tidak termasuk, maka tidak ada kewajiban atau kafarah apa pun.

Jika dilihat saat ini panggilan umi, ibu atau mamah tidak dimaksudkan lagi untuk menalak istri sebagaimana pada masa jahiliyyah. Panggilan seperti itu hanyalah panggilan biasa, bahkan panggilan yang menunjukkan sayang atau kedekatan. Sehingga kesimpulannya, memanggil istri seperti itu tidaklah masalah.

Namun untuk kehati-hatian ada juga yang berpendapat agar menambahkan keterangan nama anak di belakangnya, misalnya “umi balkis” atau “mamah ayu” dan lainnya. []

Sumber:

https://rumaysho.com

http://www.ummi-online.com



Artikel Terkait :

About Karisa Pyeli

Check Also

Mengajarkan Adab Masuk Kamar Mandi pada Anak

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki kamar mandi, lalu dia mengucapkan 'bismillah'

Tinggalkan Balasan