Breaking News
gambar: ABC

Dihadapan Perempuan Non Muslim Ini Batasan Aurat Muslimah

Di era global ini muslimah cenderung lebih cair dalam pergaulan. Hal tersebut tidak menjadi masalah selama masih dalam batasan-batasan syari’at Islam. Namun dalam beberapa kasus ada muslimah yang cenderung mengabaikan syari’at karena dianggap sulit dan tidak relevan. Padahal selamanya ajaran Islam adalah relevan, baik dari segi waktu, tempat maupun keadaan.

Saat ini banyak muslimah yang mulai memperhatikan batasan auratnya. Hal tersebut tentu sangat baik. Meskipun terkadang ada muslimah yang kebingungan mengenai dihadapan siapa saja auratnya boleh nampak. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 31,

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Dalam ayat tersebut telah jelas dinyatakan siapa-siapa saja yang diperbolehkan melihat aurat seorang muslimah (yang biasa terlihat). Seperti suami, ayah, bapak mertua, anak, anak suami, adik atau kakak laki-laki, anak keponakan, perempuan muslim, pelayan yang sudah tua dan tidak memiliki hasrat, dan anak-anak yang belum mengerti aurat.

Hal yang cukup sering dilupakan adalah pada kalimat “Nisaaihin” (Perempuan muslim), yang dimaksudkan di sini adalah boleh menampakkan perhiasan wanita di hadapan muslimah, bukan di hadapan perempuan kafir (ahlu dzimmah).

mayoritas fuqaha yaitu ulama Hanafiyah, Malikiyah dan pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i menyatakan bahwa aurat wanita muslimah di hadapan wanita kafir yang bukan mahram adalah seperti aurat laki-laki di hadapan wanita yang bukan mahramnya.

Kesimpulannya seorang muslimah dilarang menampakan auratnya dihadapan perempuan yang bukan muslim. Baik perempuan itu saudaranya atau bukan, memiliki cela atau tidak, dapat dipercaya atau tidak tetap saja aurat muslimah dihadapan mereka adalah sebagaimana aurat muslimah dihadapan laki-laki. []

Sumber: https://rumaysho.com



Artikel Terkait :

About Karisa Pyeli

Check Also

Mengajarkan Adab Masuk Kamar Mandi pada Anak

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki kamar mandi, lalu dia mengucapkan 'bismillah'

Tinggalkan Balasan