Breaking News
Foto: BT.com

Saat Ibu Tiada

Di sebuah pemukiman daerah pinggiran kota, ada seorang ibu lanjut usia yang menempati sebuah rumah sederhana pemberian dari anak-anaknya yang sukses dan beliau menempatinya dengan hanya ditemani oleh seorang pembantu.

Di tengah kesepiannya dari kehadiran anak-anaknya, yang dikenal kaya-raya dan sangat sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga masing-masing, rupanya sang ibu itu pun wafat memenuhi panggilan Allah SWT.

Rupanya inilah kisah kesepian di ujung waktu hingga setelah kematian yang mungkin sering terjadi disaat kita jika lupa menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anak kita. Semoga kita dapat memetik hikmahnya.

Sebagaimana biasa terjadi saat ada peristiwa kemalangan, tetangga adalah pihak paling pertama diandalkan untuk mengurusi kebutuhan jenazah. Mulai dari mengurusi hal-hal administrasi, perlengkapan mayit, kebutuhan takziah, menghubungi keluarga (jika tidak ada keluarga yang tinggal bersamanya) hingga mendatangi masjid untuk memberi kabar kepada warga setempat dan mempersiapan sholat jenazah.

Rupanya sang ibu tadi tidak hanya kesepian di hari tuanya, bahkan beliau ternyata benar-benar harus sendiri saat meregang nyawa ketika dijemput oleh malaikat maut tanpa ada seseorang pun yang menemani apalagi mentalqinkan (menuntun seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah).

Terakhir yang dapat diketahui adalah sang ibu mengeluh sakit kepada pembantunya dan mengatakan ingin tidur sekitar pada waktu maghrib dan pembantunya baru sadar bahwa majikannya telah meninggal dunia saat si pembantu ingin membangunkan untuk menawarkan sarapan.

Setelah para tetangga mendapat kabar, mereka pun segera menghubungi anak-anak kandung almarhumah dan inilah beberapa hal yang menggenapkan kisah kesepian tersebut, yaitu perkatan dan sikap dari anak-anak, menantu serta cucu ibu tersebut.

Anak pertama sang ibu, seorang pejabat tinggi, setelah mendapat kabar dia mengatakan kepada tetangga, tolong dibantu saja, segala biaya berapapun besarnya akan ditanggungnya, dan mungkin besok dia akan mampir sebentar untuk mengganti biaya tersebut, karena hari ini seluruh waktunya telah pada padat oleh agenda meeting walau masih berada di kota yang sama.

Ketiga anak-anak lainnya mengatakan bersedia datang setelah setelah jam kerja selesai, jadi kalau memang para tetangga bersedia, silahkan dimakamkan saja.

Para tetangga walaupun tahu akan keutamaan untuk menyegerakan pemakaman mayat tetapi tidak merasa berhak mengambil keputusan tersebut sehingga mereka memilih untuk menunggu kehadiran salah satu anak kandung sang ibu untuk mengambil keputusan.

Alhasil setelah azan isya berkumandang, barulah tiga dari empat anak-anak almarhum, beserta anak dan istri masing-masing hadir dengn gagah dan menawan, berpakaian dan berkacamata serba hitam, menunggangi mobil-mobil mewah yang mungkin semasa hidup memberikan kebanggaan serta menjadi simbol keberhasilan membesarkan anak menjadi orang-orang yang sukses.

Tak ada raut kesedihan yang bisa ditangkap, bahkan tetangga pun bingung mencari perwakilan keluarga kandung yang bisa diajak diskusi, karena mereka saling tunjuk.

Mereka pun hadir seperti layaknya tamu di sebuah acara resepsi pernikahan, mereka duduk manis dideretan bangku di bawah tenda untuk menunggu instruksi, mengisi waktu dengan saling bersenda-gurai atau sibuk berfoto dan tenggelam dengan smartphonenya masing-masing.

Akhirnya para tetangga sepakat untuk menjalankan saja ritual yang menjadi hak mayit. Ketika tetangga mengajak mereka untuk bergabung menjalankan ritual memandikan, mengkafankan hingga sholat jenazah, mereka terlihat seolah menjaga jarak dengan berbagai alasan seperti tidak biasa melihat jenazah, tidak mengerti ritualnya dan sebagainya.

Setelah selesai, mobil jenazah pun bergerak meninggalkan rumah dengan dikawal motor besar milik militer serta diikuti barisan mobil-mobil mewah tadi tanpa ada satupun dari pihak keluarga yang biasanya saling berebut mengangkat keranda dan duduk didalam mobil jenazah untuk menemani almarhum terakhir kalinya saat masih berada di atas tanah. []

 

Sumber: Sajada



Artikel Terkait :

About Ummu Khadijah

Check Also

Jangan Tinggalkan Shalat

Tidak semua ibadah termasuk rukun Islam. Ini menunjukkan ibadah-ibadah yang termasuk rukun Islam adalah ibadah yang sangat penting dan urgen. Dan diantaranya adalah shalat.

Tinggalkan Balasan