Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Ukhti, Belajar dari Kisah Pemuda Ini, Bacalah Al-Qur’an di Berbagai Kesempatan, Ini Alasannya

0

Seorang pemuda baru pulang dari safar yang cukup lama. Ia pun duduk di kursi pesawatnya. Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkan untuk berpindah tempat. Meskipun ia sangat ingin pindah karena didekatnya banyak remaja yang sibuk bersenda gurau, meminum minuman keras, dan gaduh sekali. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Pemuda itu hanya bisa menenangkan pikirannya dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.

Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara remaja ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan salah satu remaja laki-laki datang menghampirinya. “cukup..cukup…!” Ujar remaja laki-laki tersebut. Pemuda itu pun Mengira bahwa remaja ini merasa terganggu dengan suara mengajinya. Ia pun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara yang ebih pelan.

Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.

Pemuda itu tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, remaja tadi melihat pemuda itu dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:

Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahi untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah saya cicipi dalam perjalanan ini.

Saya mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajah, sesak dada, saya merasa sangat hina. saya merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasad saya, layaknya cambuk. Saya pun bingung dan bertanya pada kepada diri saya: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan saya alami?’ ‘Kemana lagi saya harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus dilakukan?’ Lalu tadi saya ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”

Pemuda itu pun menasihatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia meminta untuk berbicar sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat terlihat dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubat saya?”

Pemuda itu pun menjawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah, Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53). Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepada pemuda itu: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.” []

sumber: http://kisahmuslim.com



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline