Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Rumus 7×3 dari Ali Bin Abi Thalib

0

Menjadi orangtua memang tak bisa berhenti belajar. Setiap hari anak tumbuh dan berkembang dan kita butuh ‘ilmu’ untuk mendidiknya. Jangan sampai anak tidak memiliki teladan yang baik di rumah.

Orangtua memegang kunci utama dalam pengasuhan dan membentuk akhlak buah hati. Dalam mengurus anak-anak di rumah, konsep atau rumus 7×3 dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4, bisa dijadikan pedoman.

Menurut Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip dari situs dakwatuna.com, ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak. Tiga momen ini disesuaikan dengan usia.

1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja

Melayani anak di bawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya.

Misalnya, bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita, walau kita sedang sibuk, maka kelak ia akan langsung menjawab dan menghampiri ketika kita memanggilnya. Bila kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak ia akan memijat atau membelai punggung kita saat kita kelelahan atau sakit.

Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, maka dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya. Ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun. Insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, penuh kasih sayang, perhatian dan bertanggung jawab.

2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai ‘tawanan’

Usia 8-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban tertentu. Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak untuk sholat wajib mulai usia 7 tahun, dan memperbolehkan orangtuanya memukul anak tersebut (atau menghukum dengan hukuman seperlunya) ketika ia telah berusia 10 tahun, namun meninggalkan salat.

Untuk itu, usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang. Anak sudah beranjak baligh, harus diajarkan hukum-hukum Islam.

Hukuman dan hadiah/ pujian (reward and punishment) akan sangat pas diberlakukan pada usia ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuensi. Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama karena setiap anak itu unik.

3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat

Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orangtua, kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.

Berbicara dari hati ke hati dan menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dijelaskan bahwa selain mengalami perubahan fisik, ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya.

Memberi banyak kebebasan setelah memasuki usia akil baliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Pengawasan tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan doa untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline