Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Kenapa di Surabaya Muncul Zona Hitam Corona?

0

Virus corona yang mewabah di Indonesia sejak 2 Maret 2020, hingga kini belum menunjukkan episode akhir. Kurva penyebaran virus corona pun belum melandai. Sampai Jumat (5/6) tercatat sebanyak 28.818 orang terjangkit virus ini, dan sebanyak 1.721 pasien meninggal dunia. Kabar baiknya, jumlah pasien sembuh juga terus meningkat, saat ini sebanyak 8.892 telah dinyatakan sembuh dari serangan virus nakal ini. 

Hal yang perlu digarisbawahi, di beberapa daerah penambahan pagebluk COVID-19 kian meresahkan. Salah satu contohnya di Surabaya, Jawa Timur. Pada Rabu (3/6), Jawa Timur jadi provinsi penyumbang jumlah pasien positif COVID-19 terbanyak di Indonesia. Di hari tersebut, tambahan kasusnya mencapai 183 orang, sehingga total pasien positif mencapai 5.310 orang (data dihimpun dari infocovid19.jatimprov.go.id.)

Namun, dari banyaknya kota di Jawa Timur, Kota Surabaya yang kini menyita banyak perhatian. Pada Selasa (2/6), kota tersebut memiliki 2.748 kasus positif virus corona. Dengan kata lain, lebih dari setengah angka positif virus corona di Jawa Timur, disumbang oleh kota Surabaya. 

Nah, kondisi inilah yang membuat kota Surabaya kini dikategorikan sebagai zona hitam. Hhmm, zona hitam? Apa artinya? 

Menurut Dicky Budiman, Epidemiolog dari Griffith University Australia,  kondisi zona hitam bisa memiliki arti darurat. “Sudah lebih dari zona bahaya yakni merah. Artinya, penambahan kasusnya sudah tinggi, lebih dari 2.000-an biasanya,” ujarnya. Ia juga menambahkan, warna yang tampak seperti hitam tersebut aslinya adalah berwarna merah. “Sebetulnya yang aslinya itu bukan warna hitam, aslinya warna merah. Jadi ketika angka kasus baru di atas 2.000-an, maka daerah itu akan berwarna merah. Jadi tampak seperti hitam,” ucap dia.

Selain itu, ada pula pendapat lainnya dari Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr. Joni Wahyuhadi. Joni secara terang-terangan mengaku khawatir dengan penularan COVID-19 di Surabaya. Bahkan, kota ini disebut berpotensi menjadi kota Wuhan, Tiongkok, asal muasal pagebluk COVID-19.

Joni juga mengatakan, pihaknya kini tengah fokus menurunkan rate of transmission (tingkat penularan) virus corona terutama di Surabaya. Penyebaran virus di kota tersebut kini mencapai pangkat 1,6. Artinya, ketika 10 orang terinfeksi virus corona, dalam satu minggu bertambah menjadi 16 orang. 

Surabaya Merah, Apa Kabar Jakarta? 
Sebenarnya kota Surabaya sudah dilabeli warna hitam dalam peta penyebaran virus corona baru atau COVID-19 Jawa Timur, sejak empat hari terakhir. Akan tetapi, penetapan warna hitam tersebut mengundang banyak tanya.

Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya M Fikser, dibuat keheranan dengan zona hitam tersebut. “Ini yang bikin kita jadi bertanya, kenapa Surabaya dikasih itu (warna hitam). Seharusnya dikasih alasan-alasan di Provinsi Jatim,” ujarnya.

Menurutnya, tak ada penjelasan ilmiah mengenai pemberian warna hitam tersebut. Ia menambahkan, DKI Jakarta yang mengantongi kasus lebih banyak ketimbang Surabaya, tetap memasang warna merah. Oleh karena itu, pria ini mengingatkan Pemprov Jawa Timur agar tak sembarangan memberikan label warna pada sebuah daerah. Singkatnya, harus sesuai dengan landasan ilmu dan teori yang pasti.

Di lain pihak, Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur mengatakan, meski pasien positif COVID-19 di Surabaya lebih dari 2.000, tak serta-merta masuk zona hitam seperti di dalam peta. 

“Kemudian ada yang tanya, itu (di peta) kok ada yang hitam. Itu bukan hitam tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 (kasus) sekian merah sekali, kalau angkanya dua ribu sekian (Surabaya) merah tua,” jelasnya. []

Sumber: Halodoc



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline