Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Kalau Sudah Begini, Pasti Aku yang Disalahkan

0

Oleh: Umi Widya

Usianya menginjak dua belas tahun. Ia cucu pertama di keluarga ini, Ia adalah cucu yang paling besar. Sebut namanya Teteh (panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Sunda).

Suatu hari ketika para cucu asyik bermain, tiba-tiba adik laki-laki Teteh yang berusia delapan tahun menangis keras sekali. Ia berlari ke arah Ibunya, kemudian melaporkan bahwa Teteh lah yang menyebabkan Ia menangis. Sontak sang Ibu bergerak menghampiri Teteh yang sedang berada di kamar.

Nenek ikut panik, karena cucu-cucunya terdengar menangis dari dalam kamar. Ibunya, Tantenya juga neneknya pun sibuk mendiamkan teteh dan adiknya. Namun tangis mereka tak berhenti juga.

Saya menghampiri mereka, “Teteh, siapapun boleh menangis jika sedih atau terluka, Teteh juga boleh menangis. Tapi semua orang tidak mengerti, apa masalah yang terjadi jika Teteh tidak bicara,” seru saya.

Ia menjawab, dengan terisak-isak.

Ia coba menjelaskan, “Kalau sudah begini, pasti aku yang disalahkan, karena aku yang paling besar, pasti aku yang dimarahi Papah. Semua aku yang salah!”

“Oh, begitu. Teteh boleh menenangkan diri dulu, nanti kalau sudah tenang, kita bicara ya”, tukas saya menenangkannya.

Tak lama kemudian tangisnya terhenti. Ia sudah tenang.

“Teh, jika ada masalah bicarakan saja bagaimana kejadiannya, Teteh tidak akan disalahkan kalau Papah dan Ibu tahu awal kejadiannya seperti apa, nanti setelah tahu bagaimana ceritanya, maka semua akan membantu Teteh bagaimana cara menyelesaikannya. Tak usah takut Teteh yang akan disalahkan. Kalau Teteh menangis, malah orang-orang jadi bingung, tidak mengerti, masalah apa yang terjadi pada Teteh,” tukas saya mencoba menjelaskan.

Ia menganggukan kepalanya, kemudian menghampiri adik laki-lakinya dan menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka.

Dari secuil kepingan cerita diatas, dapat kita ambil sebuah pelajaran yang berharga. Bahwa kita sebagai orang dewasa terkadang seringkali lupa. Anak pertama kita, sudah sebesar apapun, pasti Ia tidak akan terima jika dirinya disalahkan, misalnya dengan ucapan, “Kamu itu sudah besar, harusnya kamu ngalah sama adik!”

Atau “Kamu ini sudah besar juga malah selalu begitu, gak mau kalah, egois, harusnya kamu jadi contoh buat adik-adik kamu, ini malah bikin gara-gara.”

Tanpa kita sadari, kalimat-kalimat yang seperti itu sangat menyakitkan mereka. Besar atau kecil, mereka adalah anak kita. Tak boleh dibeda-bedakan, toh diantara mereka tak ada yang meminta dilahirkan duluan.

Memiliki orangtua yang adil dan bijaksana tentu akan membuat anak-anak kita bahagia. Berapapun usia mereka, lahir pertama atau terakhir, tak membuat mereka merasa tertekan atau terabaikan. Tanpa dimarahi atau dipaksa akan tumbuh sikap kasih sayang terhadap saudara, karena mereka merasakan diantara semua anak tak ada yang dibeda-bedakan, maupun diistimewakan.

Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Bertaqwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu, “ (HR Bukhari dan Muslim).

Loading...

Maka, marilah kita mulai saat ini mencoba membiasakan diri, mengubah hal-hal yang kita anggap sepele, dengan mulai berlaku adil dan bijaksana dalam mendidik anak-anak juga menyikapi masalah yang timbul diantara mereka. Agar anak-anak bahagia memiliki orangtua seperti kita. []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline