Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Hijab Dicela Sebab Latar Belakang Keluarga?

0

Oleh : Muntarsih Zakiyya Sakhie, moentarsih@gmail.com

HIJAB dekade ini lagi menjadi trending fashions. Terlepas pembahasan hijab yang betul-betul memenuhi standart syar’i atau sekedar mode.

Lebih idealnya hijab sudah bukan menjadi sesuatu yang asing, menakutkan, kolot dan yang paling tidak enak di dengar ketika sebelum hijab menjadi fashions booming, hijab sebagai cerminan busana ” ndeso “.

Namun, memutuskan berhijab secara konsisten, tidak sekedar mengikuti kemana arah angin bertiup, tidak istiqomah alias buka tutup se-kehendak hati, tidaklah semudah perancang busana membuat pola-pola untuk didesain menjadi busana yang apik dan disukai kalangan fashionable.

BACA JUGA: Wanita Ini Boleh Tidak Berhijab, Kenapa?

Berhijab, apalagi di sebuah lingkungan yang masih asing dan cuek dengan agamanya, meskipun sebagian besar mengaku beragama Islam, terkesan memandang buruk pemakai hijab yang bukan dari keluarga berdarah kyai atau tokoh agama.

Jika ada yang memakai hijab dari keluarga yang sangat awam dari segi agama, maka cibiran dan pandangan sinis akan tampak jelas di mata dan suara-suara tak sedap kerap kali singgah di telinga. Dari yang sekedar bisik-bisik lirih tapi bermakna keras, hingga yang langsung nyemprot tanda tak suka.

Alasan mereka barangkali cukup masuk akal jika ditelusuri dari jejak keluarga bahwa yang keturunan ahli agama pantas-pantas saja berhijab, dan itu sudah semestinya, walaupun ada beberapa yang lepas pakai di depan khalayak yang non mahram. Dan mereka tidak mempermasalahkan-nya, lebih mencengangkan jika pandangan mereka “Bahwa yang seperti itulah yang benar.”

Sebaliknya orang yang memutuskan berhijab dari keluarga yang sama sekali bukan titisan “ngerti” agama, sumpah serapah pun tak dapat dielakkan. Baik dari lingkungan sekitar atau tak sedikit dari seputar sanak saudaranya sendiri.

Tapi ini mengenai syariat, bok. Bukan keturunan kyai atau pandai agama saja yang pantas berhijab. Lagian masalah berhijab tidak sedikitpun melihat pantas atau tidak pantas. Cocok atau tidak cocok. Berhijab tak ada sangkut pautnya dengan bagaimana riwayat keluarganya.

Mau ayahnya penjudi, tukang adu ayam, pemabuk atau ibunya, saudara-saudaranya tak ada yang dekat dengan agama, dan atau atribut-atribut buruk lainnya, itu semua jangan pernah dikait-kaitkan dengan saudara mereka yang bertekad diri memenuhi kewajibannya menutup aurat dengan berhijab. Berhijab hukumnya wajib bagi siapapun yang mengaku dirinya muslimah dan sudah baligh.

Namanya wajib tidak ada sedikitpun alasan untuk meninggalkannya atau menaggalkan di depan siapapun yang bukan mahramnya. Bagi kaum perempuan yang tidak memakainya ( hijab ) berarti telah mengingkari hukum syariat Islam

Sahabat, mungkin pernah menemui hal yang demikian, pernah mendengar atau bahkan mengalaminya sendiri? Ketika memutuskan berhijab, menutup anggota tubuh dengan balutan pakaian anti ketat dan jauh dari kesan menerawang, dari ujung kaki hingga ujung kepala, namun dicibir oleh orang-orang sekitar dengan ungkapan yang nylekit, memusuhi, dan mengobarkan api kebencian.

“Pake kerudung terus biar apa, apa biar dibilang orang suci, tengok noh bapaknya aja kagak pernah sholat, saudara-saudaranya juga bedigal semuah, nggak pantes atuh pake kerudung! Keluarganya aja gak bener!”

Komentar-komentar pedas yang nyaris tidak pernah merestui orang berhijab jika keluarganya jauh dari paham agama. Sebaliknya yang menjadi pertanyaan, apakah dibenarkan apabila anggota keluarga yang tidak pakem agama lantas anak keturunannya wajib mengikuti jejak untuk tidak paham agama juga? Bapak seorang pemabuk apa mengharuskan memiliki anak juga seorang pemabuk?

Ibu seorang pelacur apakah anaknya pantasnya menjadi pelacur juga? Tentu saja tidak! Begitu pula dengan berhijab, apa musti harus menjadi anak ustad terlebih dahulu, baru bisa dikatakan pantas berhijab? Dan tidak akan dipermasalahkan lagi latar belakangnya?

Loading...

Mari kita tengok dalam Al’Quran surat Al-Ahzab:59 berikut ini :

Allah berfirman, ” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ” Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam Al’Quran surat An-Nur:31 Allah berfirman yang artinya:
“…. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ..”

Dalam Al’Quran surat Al Maidah:5 Allah berfirman : “… barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya, bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.”

BACA JUGA: Hijab Itu ya Harus Tutupi Dada dan Leher

Di dalam kandungan ayat-ayat Al’Quran tersebut di atas, mengenai berhijab tidak ada hubungan antara wajib berhijab untuk perempuan-perempuan tertentu sesuai riwayat keluarganya, melainkan keseluruhan bagi umat Nabi Muhammad Saw yang ada di muka bumi ini.

Sebaiknya kita dukung bagi muslimah yang belakangan ini banyak memenuhi beranda-beranda dunia fana ini dengan keelokan hijabnya, apalagi yang memenuhi standart syar’i.

Semoga istiqomah dan hijabnya dapat menjaga dirinya dari hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang batil. Hijabnya tak usah kita taut-tautkan dengan bagaimana iman anggota keluarganya, orangtuanya, ataupun saudara-saudaranya. Itu tak perlu! []

Sumber: Islampos



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline