Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Sex Education, Begini Langkahnya

0

Pendidikan seks (sex education) sebenarnya mudah saja diterapkan. Sebab Islam sendiri sudah mengaturnya. Di sarikan dari Zulia Ilmawati, Psikolog Pemerhati Masalah Anak dan Remaja dalam tulisannya Pendidikan Seks Untuk Anak-anak.

Dengan tambahan mengenai sex education untuk remaja, dilengkapi dalil yang mudah dipahami:

1. Menanamkan rasa malu

Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak meski masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Dan ajarkan juga biasakan anak untuk selalu menutup auratnya.

Untuk dewasa sendiri, rasa malu harus diperhatikan. Baik itu laki-laki ataupun perempuan. Hendaknya, tidak mencari perhatian kepada lawan jenis. Sebab salah satu penyebab dibalik maraknya pelecehan ialah hilangnya rasa malu pada perempuan itu sendiri. Misalnya dengan mengenakan pakaian yang memperlihatkan aurat.

“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar dengan penilaian ‘shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim.)

2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan

Berikan pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin anak yang juga dianjurkan oleh syariat (syarat menutup aurat; buka an-nuur:31 & al ahzab 59). Sehingga mereka terbiasa untuk berprilaku sesuai dengan fitrahnya.

Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR al-Bukhari).

3. Memisahkan tempat tidur mereka

Tempat tidur anak pun harus mulai dipisahkan apabila memasuki umur antara 5-7 tahun. Bila perempuan dengan perempuan minimal beda kasur. Tapi jika perempuan dengan laki-laki harus beda kamar.

Dengan pemisahan tempat tidur yang dilakukan terhadap anak dengan saudara yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

4. Kenalkan juga mahramnya

Dengan mengenalkan siapa saja mahramnya (Surah an-Nuur 31), tentu ini pula menjadi tolak ukur bagi anak nantinya siapa saja yang boleh menyentuhnya. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak.

Sehingga besar kemungkinan seorang anak perempuan akan menolak jika saat didekati oleh laki-laki. Ini menutup kesempatan akan adanya pelecehan dalam bentuk fisik.

5. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata

Loading...

Pentingnya input dalam pendidikan sex untuk anak juga dewasa. Sebab input mampu menentukan outputnya akan seperti apa. Jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

Atau adegan sinetron, bacaan dan obrolan orang dewasa yang mengarah pada pergaulan bebas (pacaran) yang seolah terlihat indah. Berikan pula penjelasan mengenai larangan mendekati zina serta kewajibannya sebagai seorang muslim, sehingga apabila anak terlanjur mendengar dan masuk pada lingkungan yang kurang baik ia akan merasa tidak betah dengan sendirinya.

6. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu)

Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Dengan pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.

Di dalam kitab Al Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Atha’. Dia berkata, aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Apakah aku harus meminta izin jika hendak masuk menemui saudara perempuanku?” Dia menjawab,”Ya.” Aku mengulangi pertanyaanku: “Dua orang saudara perempuanku berada di bawah tanggunganku. Aku yang mengurus dan membiayai mereka. Haruskah aku meminta izin jika hendak masuk menemui mereka?” Maka dia menjawab,”Ya. Apakah engkau suka melihat mereka berdua dalam keadaan telanjang?” [Hadits mauquf shahih].

7. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât dan khalwat

Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang dibolehkan oleh syariat Islam. Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja.

Sebab perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa, karena itu jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas. Juga diajarkan untuk menolak saat diajak berduaan dengan lawan jenis.

8. Mendidik etika berhias

Berhias yang berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri. Di khususkan untuk perempuan. Sayangnya, berhias sering kali menampakan penampilan menawan yang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan ketertarikan pada lawan jenisnya.

Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar menghindarkan diri dari perbuatan buruk laki-laki yang tidak baik (mata jelalatan).

8. Ihtilâm dan haid

Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Haid dialami oleh anak perempuan yang sudah balig. Mengenalkannya bukan hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata. Berkaitan dengan hal ini maka anak harus diajarkan dengan kewajiban untuk melakukan mandi besar.

Untuk dewasa, tentu mereka sudah tau perihal ini. Namun jarang sekali ditekankan pada anak yang sudah balig, jika ia telah menjadi mukalaf (orang yang sudah balig dijatuhi hukum atau kewajiban untuk mencari tau perihal hukum dalam agamanya lebih mendalam).

Dewasanya, apabila hal ini disadari oleh semua orang maka tidak akan sampailah terjadi banyak pelecehan. Sebab islam sendiri telah mengaturnya lebih mendetail.

Juga yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat. []



Artikel Terkait :
Loading...

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline