Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Trauma Sebab Perkara Dunia atau Akhirat?

0

Purwakarta, 07 Desember 2019

Gejala trauma menghampiri seketika saat ada tekanan dari luar yang berlebih. Gejala trauma berhasil membuat saya menjauhi segala hal yang hampir berhubungan dengan penyebabnya. Gejala trauma menimbulkan sifat kehati-hatian dalam diri saya.

Padahal penyebab trauma ini hanya perihal duniawi. Akibat yang ditimbulkannya pun hanya berdampak pada kehidupan yang fana ini.
Mengapa trauma, suatu hal yang dipandang buruk berhasil mencetak perasaan was-was yang sehebat itu?

Lalu bagaimana saya dengan berbagai maksiat yang ntah disengaja ataupun tidak?

BACA JUGA: Menjadi Perhiasan Terindah Dunia Akhirat

Dalam memahami dosa besar, ada diantaranya yang bahkan sudah dijaminkan neraka atau siksa yang semisalnya. Dan itu berkaitan dengan dunia yang abadi (akhirat). Tidakkah merasa trauma setelah melakukannya?

Tidakah menimbulkan rasa takut jika abadi di neraka? tidakah menimbulkan kehati-hatian dalam bertindak dan bersikap?
Dimanakah posisi akhirat dalam hati ini? Lebih utama dari duniakah, sehingga trauma itu hanya muncul jika mengakibatkan keburukan terhadapnya saja?

Sehebat itu pengaruh kehidupan yang fana ini. Sampai-sampai gejala trauma hanya dialami oleh orang yang mendapat kejadian buruk didunia. Tidak dengan kemaksiatan yang dilakukan.

Mungkin lupa jika kemaksiatan itu membuat kerusakan pada dunia yang abadi nanti. Bukan, bukan akhiratnya yang akan hancur. Namun nasib kita di akhirat nanti akan hancur.

Mungkin tidak sadar, jika hancurnya ia didunia sebab kemaksiatan pula. Bukan, bukan Allah tak sayang. Namun kehancuran itu datang jika sentuhan kecil tak mampu terasa, peringatan sudah diabaikan, hingga datanglah petaka dan Allah berharap itu mampu menyadarkan. Tapi, sayangnya tidak semua tahu itu.

Masihkah merasa aman setelah melakukan maksiat. Atau malah melakukan negosiasi dengan Tuhan jika maksiat itu bukanlah maksiat (dosa). Jangan-jangan ayat al-Quran berani diingkari, hingga menimbulkan penafsiran pribadi. Dan merasa teori makhluk lebih diterima logika dibanding Kalamullah yang terjaga kesuciannya.

Ahh dasar diri. Tidak tahu balas budi pada Ilahi.

Anak Trauma? Berikut Tips Mengatasinya!

Tercipta dari air yang hina (mani), jika bukan Allah lantas berada dimana kita saat ini? Makhluk, membuang mani begitu saja. Bahkan enggan melihat bentukannya atau hanya mencium baunya. Lalu saya? Merasa paling benar dalam berkata dibanding Kalamullah yang berhasil diabadikan?

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (TQS. Ibrahim 14:27) []



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline