Breaking News

Cerita Langit yang Menangis, Wah Kenapa?

Sore itu tampak aneh langit yang biasanya memancarkan rona jingga di waktu senja. Namun saat itu masih berwarna biru. Seorang bijak bertanya “wahai langit mengapa engkau tidak berubah warna? ini sudah pukul 17.55 , dimana rona jinggamu?.”
Langit pun menjawab, “Duhai tuan yang bijak, aku sungguh enggan merasa iri, tapi…..”
“Iri ? iri dengan siapa? mengapa?” potong tuan bijak tersebut.
“tuan sebenarnya aku tengah merasa iri dengan bintang-bintang.” keluh langit dengan sedih. “Bintang? apa yg telah mereka perbuat duhai langit? hingga membuatmu se-iri ini?” tanya tuan bijak.
“huuufthh, sungguh malu mengatakannya. Tetapi aku merasa sang pencipta tidak adil! aku bekerja siang dan malam tak henti. Siang hari aku harus membiarkan matahari bergantung denganku lalu semua mata selalu tertuju padanya ‘betapa indahnya matahari’ semua orang berkata. Lalu senja hari aku menjinggakan warnaku tapi orang-orang enggan melihat dan memujiku karena takut matanya menjadi rusak. Ketika malam tiba aku harus menjadi pekat agar bintang-bintang itu dapat menari-nari dan mendapat pujian semua mata. Bukan hanya itu, saat bintang tidak ada. Bulanlah yg menjadi objek pujian banyak mata. Lalu kapankah aku akan mendapat pujian? aku bekerja lebih keras dari mereka! Tanpa aku mereka tidak mungkin nampak indah.” Langitpun menangis tersedu-sedu.
Tuan bijak termenung lama ,lalu ia berkata, “Langit yang indah, tidak malukah engkau berkata seperti itu? Engkau merasa bekerja lebih berat? Engkau merasa sepatutnya engkau yg dipuji? Istigfar duhai langit. Hanya Allah lah yg wajib kita puji. Segala puji hanya untuknya! Atas keagungannya engkau dapat berubah warna. Atas keagungannya luasmu tak terukur. Atas keagungannya kau diciptakan ada berlapis-lapis. Apa engkau sadar? betapa Allah mengasihimu ? Ia menciptakanmu sebagai tokoh dibalik layar akan keindahan benda-benda tersebut. Lalu masih layakkah engkau merasa iri dan ingin dipuji?.”
Langitpun tersedu-sedu,iya berubah warna menjadi muram.
“Astagfirullah, sungguh saya bersalah . Ampuni saya yang merasa iri dan ingin dipuji.”
Sejak saat itu langit bekerja sesuai tugasnya. Walaupun tak pernah menjadi fokus utama mata semua orang ia tetap bekerja dengan ikhlas dan merasa gembira melihat benda-benda langit berpentas diatasnya.
Tidak sepantasnya kita merasa iri dan ingin dipuji. sungguh Allah itu maha adil Oleh karena itu segala puji hanya untuk Allah. Tuhan semesta alam. Meslkipun menjadi orang di balik layar dan tidak menjadi fokus perhatian orang lain, bekerjalah dengan ikhlas. Sungguh allah maha tahu dania maha melihat. Tidak akan mungkin hilang kemuliaan usahamu hanya karena orang lain tidak memujinya. Maka bekerjalah dengan mengharap pujian dan keudukan tetapi pujian dan keudukan yang diberikan oleh Allah semata. []



Artikel Terkait :

About Karisa Pyeli

Check Also

12 Inspirasi Desain Mushola Kecil di Rumah

Musala meskipun ukurannya minimalis, jika bersih dan nyaman, pasti akan membuat kita semakin khusyuk saat beribadah. Ingin menghadirkan musala di rumahmu meski hanya berukuran minimalis?

Tinggalkan Balasan