Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Meninggalkan Segalanya demi Ibadah, Bolehkah?

0

Mencintai Allah melebihi apa dan siapa pun di dunia ini merupakan hal yang harus dilakukan. Namun Allah tidak pernah menyukai hambanya yang berlebih-lebihan. Menunjukan kecintaan bukan berarti melakukan Ibadah seharian hingga melupakan muammalah. Terlebih lagi hingga mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah agar dapat fokus beribadah.

Memiliki syahwat adalah hal yang manusiawi. Syahwat sama sekali tidak mengganggu ibadah justru dapat menjadi bernilai ibadah apabila disalurkan sesuai dengan cara yang diperintahkan Allah.

Sebagai manusia terkadang kita terlalu berhati-hati daam suatu perkara, hingga tiak nampak lah ciri Islam yang sesungguhnya yakni Memudahkan. Sebagaimana firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah Halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S Al-Maidah: 87)

Dalam suatu riwayat yang dikemukakan oleh at-tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa seorang laki-laki menghadap Nabi saw dan berkata: “Ya, Rasulullah! Apabila aku makan daging, timbulah syahwatku kepada perempuan . Oleh karena itu saya haramkan daging untuk saya.” Maka turunlah ayat tersebut, sebagai larangan untuk mengharamkan yang halal.

Dalam riwayat lain yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dari al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa beberapa sahabat, diantaranya ‘Utsman bin Mazh’un, mengharamkan bercampur dengan istrinya sendiri dan mengharamkan makan daging. Mereka mengambil pisau untuk memotong kemaluannya sehingga terputus syahwatnya. Agar ibadah mereka kepada Allah tidak terganggu. Maka turunlah ayat tersebut yang melarang berlebih-lebihan dan melarang mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah.

Berdasarkan penjelasan tersebut menunjukan betapa besar kasih sayang Allah terhadap hambanya. Allah memerintahkan mereka mematuhi segala ketentuannya tanpa mengabaikan kebutuhan fisik maupun psikis mereka. Namun terkadang sifat berlebih-lebihan pun muncul. Dan Allah tidak menyukai yang demikian. []
sumber: Asbabun Nuzul, K.H.Q. Shaleh, H.AA Dahlan, dkk. Diponegoro:Bandung.2007

 



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline