Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Padukan Hijab dengan Celana Body Pressed, Bolehkah?

0

Melalui perkembangan zaman, model dan cara berpakaian seseorang juga mengalami perubahan. Baik dari segi trend, mode sampai booming pakaian yang sedang menjadi pusat perhatian. Terlebih untuk para kaum hawa.

Ketertarikan terhadap mode busana, adalah hal yang lumrah dan boleh-boleh saja. Tapi, Tanpa meninggalkan aturan berbusana di dalam Islam (syar’i).

Salah satu contoh busana yang masih booming atau menjadi hal lumrah yang dikenakan para Muslimah adalah celana pensil.

Lalu, bagaimana Islam menilai para perempuan yang mengenakan celan pensil ? Apakah busana muslimah dengan menggunakan bawahan celana legging (celana dengan kain kaos dan ketat/body pressed) dipadukan dengan baju kurung dan jilbab tersebut sudah memenuhi standart syar’i?

Di antara ulama madzhab Hanbali yang menyatakan makruh masalah ini ialah Syekh al-Buhuti al-Hanbali dalam kitabnya Kasyaf al-Qina. Di antara yang dikutip beliau sebagai dalil dalam masalah ini adalah sebuah hadits Rasulullah. Bahwa suatu ketika Rasulullah menghadiahkan pakaian [semacam pakaian al-Qibthiyyah] kepada Usamah ibn Zaid. Kemudian Usamah memakaikan pakaian tersebut kepada isterinya. Ketika Rasulullah bertanya: “Kenapa engkau tidak memakai pakaian al-Qibthiyyah?. Usamah menjawab: “Aku memakaikannya kepada isteriku wahai Rasulullah!. Rasulullah bersabda: “Suruhlah ia untuk mengenakan pakain dasar [ghilalah], aku khawatir pakaian [al-Qibthiyyah] tersebut membentuk tubuhnya”. Dalam pada ini Rasulullah tidak mengharamkan pakain ketat tersebut.

Namun, hukum memakai celana ketat bagi wanita pada zaman sekarang adalah haram, apabila celana ketat tersebut dipakai didepan orang yang haram melihatnya yaitu selain suami dan mahramnya. Karena akan menimbulkan fitnah bagi yang melihatnya.

Jadi perkataan ulama’ diatas yang menghukumi makruh dimaknai jika pakaian ketat tersebut dipakai ketika shalat atau diluar shalat itupun dilakukan didalam rumah, atau sedang bersama mahramnya atau dalam kondisi yang aman dari fitnah godaan. Sementara pakaian ketat yang biasa dipakai para wanita sekarang diluar rumah tidak pernah terjadi pada zaman ulama’ dahulu. Karena hukum asal perempuan adalah tidak boleh keluar kecuali ada hajat. Mana mungkin wanita yang tidak diperkenankan keluar rumah tanpa hajat bisa diperkenankan keluar rumah dengan pakaian ketatyang jelas mengundang godaan ?

Jadi dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian (maksudnya jarak yang sangat jauh).” (Shahih Muslim, no. 2128). []

Sumber: tribunnews.com



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline