Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Umi Puasa, Bolehkan Mencicipi Masakan?

0

Saat bulan ramadhan tugas memasak seorang ibu menjadi bertambah banyak. Hal ini dikarenakan sebagai ibu kita ingin memberikan makanan terbaik untuk anak dan suami ketika berbuka.

Masalahnya, terkadang makanan yang disajikan rasanya tidak pas seperti pada hari-hari biasanya. Hal ini dikarenakan kita tidak mencicipinya terlebih dahulu.

Kekecewaan pun terlihat di wajah suami dan anak saat berbuka. Tentu itu bukan hal yang diinginkan. Karena dapat mengurangi mood kita sebagai seorang ibu.

Belum lagi bagi ibu-ibu yang berjualan menu untuk berbuka. Tentu tidak menyenangkan apabila pelanggan komplain atasa apa yang kita sajikan. Apakah harus kita membatalkan puasa agar dapat membahagiakan suami, anak, dan pelanggan?

Tntu saja jawabnya tidak. Saat berpuasa Umi dapat tetap mencicipi masakan yang dibuat tanpa membatalkan puasa. Seperti yang dijawab oleh ustad Ammi Nur Baits dalam laman konsultasi syariah, “Diperbolehkan bagi orang yang puasa, baik lelaki maupun wanita, untuk mencicipi makanan jika ada kebutuhan. Bentuknya bisa dengan meletakkan makanan di ujung lidahnya, dirasakan, kemudian dikeluarkan, dan tidak ditelan sedikit pun.”

Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, “Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongan.” (H.r. Bukhari secara mu’allaq)

Jika orang yang puasa menelan makanan yang dicicipi karena tidak sengaja maka dia tidak wajib qadha, dan dia lanjutkan puasanya. Ini berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan dimaafkannya orang yang lupa dalam pelaksanaan syariat. Di samping itu terdapat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Siapa saja yang lupa ketika puasa kemudian makan atau minum maka hendaknya dia sempurnakan puasanya, karena Allah telah memberinya makan atau minum.” (H.r. Bukhari dan Muslim) []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline