Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Hukum Isbal bagi Wanita

0

Dipahami secara syar’i isbal atau menjulurkan pakaian sarung, celana dibawah mata kaki merupakan perkara yang tercela dan terlarang baik bagi kaum laki-laki. Ini sudah tertulis secara jelas dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

“Barangsiapa yang menyeret pakaiannya secara sombong dan angkuh, maka Allah ta’ala tidak akan memandangnya (dengan pandangan rahmat) pada hari kiamat kelak.” (HR Bukhari: 5791).

BACA JUGA: Haruskah Muslimah Memakai Kaos Kaki?

Adapun dalam Shahih Muslim (2085), “Barangsiapa yang menyeret sarungnya hanya dengan tujuan menyombongkan diri maka Allah tidak akan memandangnya (dengan pandangan rahmat) pada hari kiamat kelak.”

Nah, makna hadis ini adalah bahwa yang menjulurkan pakaiannya dibawah mata kaki baik itu dilakukan dengan sombong atau tidak, pelakunya tetap mendapatkan ancaman dalam hadis ini.

Berarti hadis ini menunjukkan keumuman larangan isbal baik dengan disertai kesombongan atau tidak.

Akan tetapi banyak ulama yang menyatakan bahwa isbal ini tidaklah haram bila tidak disertai dengan kesombongan, karena hadis-hadis yang mengharamkan isbal secara mutlak –tanpa mengkhususkannya dengan sikap sombong- adalah umum, dan kemudian di taqyid atau dikhususkan dengan hadis-hadis yang mengkaitkannya dengan sikap sombong, sehingga hadis-hadis larangan isbal secara umum bermaksud bila hal itu dilakukan secara sombong.

Adapun bila tidak disertai dengan kesombongan maka hukumnya tidak haram dan bukan merupakan makna tekstual hadis tersebut.

Apalagi ada hadis yang telah menunjukan dengan jelas terkait hal ini, “Barangsiapa yang menyeret sarungnya hanya dengan tujuan menyombongkan diri maka Allah tidak akan memandangnya (dengan pandangan rahmat) pada hari kiamat kelak”. (HR Muslim: 2085).

Maka dapat disimpulka, diantara ulama yang berpendapat seperti ini ada yang menyatakan bahwa hukum isbal bagi laki-laki adalah mubah, dan ada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah makruh.

Itu baru hukum untuk laki-laki. Lalu, bagaimana hukumnya bila hal ini dilakukan kaum wanita?

Dalam hadis dari Ummi Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ ؟. قَالَ: يُرْخِينَ شِبْرًا. فَقَالَتْ: إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ ؟! قَالَ: فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ.

Artinya: “Barang siapa menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Kemudian Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana para wanita membuat ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sejengkal” Ummu Salamah berkata lagi: “Kalau begitu telapak kaki mereka akan tersingkap ?!” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkannya sehasta, mereka tidak boleh melebihkannya.” (HR. Tirmidzi: 1731, hasan shahih)

Bila tadi kaum laki-laki dilarang menjulurkan pakaian melebihi mata kaki, maka kaum wanita diberikan keringanan agar aurat mereka yang ada dibagian kaki dan betis tidak tersingkap. Yaitu dengan dibolehkan bahkan diwajibkan menjulurkan pakaiannya hingga menutupi kaki mereka.

Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah pun mengomentari hadis ini, “Ummu Salamah menanyakan hukum isbal tersebut untuk wanita karena mereka sangat perlu untuk isbal demi menutup aurat mereka sebab semua bagian kaki wanita adalah aurat, sehingga Nabipun menjelaskan padanya bahwa hukum isbal bagi mereka tidak sama dengan hukum isbal bagi laki-laki… dan Qadhi Iyadh telah menukil ijma’ ulama bahwa larangan isbal ini hanyalah khusus bagi laki-laki dan tidak termasuk kaum wanita”. (Fath Al-Bari: 10/259).

Loading...

Hadis diatas sudah menunjukkan bahwa wanita wajib menutup kedua kakinya, dan menunjukkan dua cara dalam menutup kaki tersebut:

Pertama, bahwa wanita menjulurkan pakaiannya seukuran satu jengkal dari tengah betisnya. Ini merupakan batas minimal ujung pakaian wanita, artinya ia tidak boleh menjulurkan kurang dari satu jengkal dari tengah betisnya.

Karena secara umum, bila anda mengukur satu jengkal dari tengah betis ke bawah maka akan pas dengan telapak kaki sehingga ukuran satu jengkal pakaian dari tengah betis kebawah; ini sudah menutupi semua kaki, dan bila kurang dari ukuran ini maka akan ada bagian kaki yang akan tersingkap dan tidak tertutupi.

Hal ini juga terdapat dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membolehkan ummahatul-mukminin pada ujung pakaian mereka untuk diperpanjang satu jengkal. Lalu mereka meminta panjangnya ditambah, maka beliau membolehkan mereka menambah satu jengkal lagi, sehingga dahulu mereka menyuruh utusan kekami (untuk mengukur pakaian mereka), sehingga kamipun mengukur dengan memperpanjang bagi mereka satu hasta (dua jengkal dari tengah betis)”. (HR Abu Daud: 4119, shahih).

BACA JUGA: 12 Syarat Pakaian Wanita Muslim

Kedua, bahwa wanita boleh menurunkan pakaiannya seukuran satu hasta atau dua jengkal dari tengah betisnya kebawah kakinya.

Ini sudah menjadi batas maksimal dari ukuran ujung pakaian wanita, sebab ketika ummahatul-mukminin meminta agar dibolehkan untuk memperpanjang ujung pakaian mereka dari satu jengkal. Maka beliau hanya membolehkannya dengan menambah satu jengkal lagi sehingga jumlah semuanya dua jengkal (satu hasta), dan beliau melarang bila panjangnya lebih dari itu.

Wallahu a’lam []

SUMBER: SUNNAH | WAHDAH



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas