Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bagaimana Cara Menghadapi Kekhawatiran Tidak Diterimanya Ibadah?

0

Pahala merupakan suatu hal yang tidak pantas di hitung dengan matematika manusia. Dapat dikatakan yang terpenting kita usaha semaksimal mungkin agar ibadah kita diterima. Namun, bagaimana jadinya apabila yang kita justru meragukan diterima tidaknya ibadah itu?

Rasa khawatir kerap kali terjadi dan dirasakan oleh sebagian orang. Tapi, disetiap masalah selalu ada solusi.

Lalu, bagaimana mengatasi rasa khawatir tersebut?

BACA JUGA: Muslimah, Ini Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Sebenarnya perasaan khawatir atau takut tersebut merupakan hal yang baik bagi seorang muslim. Selama dia dapat meletakkan rasa takutnya itu secara proporsional. Yaitu dapat meletakkan rasa takut (al khauf) dan rasa harap (ar raja`) dengan seimbang (tawazun, i’tidal).

Perlu diperhatikan, jangan sampai rasa takut yang dominan, sementara rasa harap sangat tipis. Sebab, itu akan melahirkan sikap putus asa dari rahmat Allah SWT yang tercela. Namun, apabila rasa takut sangat tipis, sedangkan rasa harap sangat besar. Maka itu akan menimbulkan sikap berani berbuat maksiat atau tidak takut berbuat dosa.

Keseimbangan rasa takut (al khauf) dan rasa harap (ar raja`) tersebut ditunjukkan oleh firman Allah SWT mengenai para nabi dan para wali-Nya, dalam surah Al Anbiyaa`ayat 90 , ”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.”

Juga dalam firman Allah SWT, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasatakut dan harap.” (QS As Sajdah [32] : 16).

Maka, sudah jelas dalam dua ayat tersebut terdapat petunjuk, bahwa seorang muslim dalam ibadahnya hendaknya menggabungkan dua perasaan sekaligus, yaitu rasa takut (khauf) dan dan rasa harap (raja`) secara bersamaan. (Al Jauharah Al Tharifi, Al Manhaj Ad Da’awi fi Al Kauf wa Ar Raja`, hlm. 43)

Adakah cara menghadirkan dua perasaan tersebut secara bersamaan dalam hati seorang muslim?

Pertama, timbulkan perasaan bahwa Allah SWT adalah Rabb yang Maha Agung yang mempunyai hak untuk diibadahi oleh para hamba-Nya secara benar, yang berhak mengazab para hamba-Nya.

BACA JUGA: Muslimah, Ingat yah Menikah itu Ibadah

Juga mengingat bahwa amalnya masih sedikit, sementara dosa-dosanya masih banyak, atau mengingat bahwa dia belum beribadah secara benar, atau mungkin niat ibadahnya tidak ikhlas dan tidak lurus. Nah, perasaan ini akan melahirkan rasa takut (khauf), bahwa bisa jadi Allah SWT tidak menerima amal-amal ibadahnya.

Kedua, hadirkan pula perasaan bahwa Allah SWT adalah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dengan rahmat-Nya yang sangat luas. Perasaan ini dapat melahirkan rasa harap (raja`), sehingga seorang muslim akan selalu berharap bahwa Allah akan menerima amal-amalnya, memberi pahala kepadanya, dan mengampuni segala dosa dan kesalahannya. (Syekh Ahmad Al Fuda’i, “Ladayya Wiswaas Tsaqiilah min An Laa Yataqabbalallahu ‘Amaly”). []

SUMBER: ANAK SOLEH



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline