Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Waspadai, Anak Kecanduan Nonton TV

0

Umumnya, anak usia dua tahun nonton TV kurang dari sembilan jam per minggu, sementara itu anak usia empat tahun di bawah 15 jam. Pada usia 10 tahun, anak-anak itu diteliti oleh guru mereka untuk dinilai dari segi prestasi akademis, kelakuan dan kesehatan serta indeks berat tubuh atau body mass index (BMI).

Hasilnya, anak-anak yang sering menonton TV (didominasi pada usia dua tahun) lebih rendah fokusnya di kelas dan buruk dalam matematika.

BACA JUGA: Toilet Training? Jangan Paksa Anak

Adapun para peneliti yang menemukan penurunan aktifitas fisik, namun meningkatnya konsumsi minuman ringan dan indeks berat tubuh. Semakin banyak anak kecil menonton televisi, semakin besar juga kemungkinan prestasinya buruk di sekolah dan kesehatannya terganggu pada usia 10 tahun, kata para peneliti.

Dengan menjaga tontonan untuk si kecil memang mampu melindunginya dari konten dewasa yang berseliweran di televisi. Namun bukan hanya sekedar kontennya saja yang disaring, durasinya pun perlu dijaga agar tidak memberi dampak negatif bagi perkembangan sang buah hati.

Hingga usia setahun, sebenarnya kondisi mata anak dalam keadaan rabun dekat akibat terlalu lama memandang layar laptop atau juga tv. Sehingga bayangan benda jatuh di belakang retina.

Keasyikan menonton pun akan membuat anak bersusah payah memfokuskan penempatan bayangan gambar agar jatuh pada tempat yang benar. Belum lagi ketika anak serius nonton, yang biasanya membuat mereka lama atau bahkan lupa berkedip. Padahal, kedipan mata itu sangat berguna untuk merawat dan melindungi mata agar tidak kering.

Faktanya, air mata itu mengandung antibakteri, antibodi, dan nutrisi, berguna untuk membersihkan kotoran masuk ke mata, melumasi mata, serta mengalirkan oksigen dan udara ke seluruh penjuru mata.

BACA JUGA: Anak Tidak Suka Makan Tahu? Coba Resep Rolade Tahu Sosis

Jadi, apabila anak mengeluh pusing akibat kelamaan depan laptop pantas saja. Atau bahkan anak sakit pada tengkuk, mual, atau bahkan pingsan, ingat-ingat lagi kebiasaannya sebelum bunda keburu panik. Kemungkinan, ia anak tidak menderita penyakit serius, melainkan sakit gara-gara terlalu lama tersihir di depan layar kaca.

Kesimpulannya, bunda harus punya banyak waktu untuk anak. Tinggalkan pekerjaan diluar saat anak berada pada masa pertumbuhan. Itu sangat penting, begitu pula dengan ayah. Bukan sekedar menjadi ATM berjalan. []



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline