Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Menikah tapi Pisah Rumah, Bolehkah?

0

Sebgian besar anak muda jaman sekarang apabila disuguhi dengan kata menikah, pasti akan berpikir jika menikah itu membutuhkan modal yang besar. Belum lagi apabila kata itu ditujukan untuk mereka yang masih mengejar pendidikan.

Ataupun adapula yang melangkah ke jenjang pernikahan meski masih melanjutkan pendidikan tetapi memilih untuk tinggal berpisah. Lalu, apakah itu dibolehkan dalam islam?

Untuk hal ini ada beberapa catatan yang harus diperhatikan:

BACA JUGA: Gara-gara Suami Tidak Memberi Nafkah, Mau Minta Cerai?

Pertama, menikah muda sangat dianjurkan karena dijaman sekarang berbagai macam fitnah dengan mudah menyebar begitu saja.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan para pemuda untuk segera menikah. Sebab ini menjadi solusi untuk meredam syahwat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi)

Kedua, setelah melakukan akad nikah harus segera kumpul dan melakukan hubungan badan bukan syarat dan bukan pula kewajiban dalam Islam. Jadi artinya, diperbolehkan suami istri berpisah setelah akad nikah, sampai batas waktu sesuai kesepakatan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dulu menikahi Aisyah saat ia berumur 7 tahun, tapi mulai tinggal serumah setelah Aisyah berumur 9 tahun.

Dari Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Aisyah berusia 7 tahun. dan Aisyah kumpul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berusia 9 tahun, sementara mainan Aisyah bersamanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ketika Aisyah berusia 18 tahun.” (HR. Muslim 3546)

Dari riwayat ini dapat dikatakan bahwa suami istri yang telah menikah, tidak harus langsung kumpul (tinggal serumah). Mereka, boleh juga meundanya sesuai kesepakatan.

Ketiga, mengenai pemberian nafkah bahwa para Ulama sepakat jika suami berkewajiban memberi nafkah istrinya dengan ketentuan:

1.  Setelah istri baligh

2.  Istri tidak ingkar terhadap suami (nusyuz)

3.  Istri telah bersedia untuk berhubungan (melakukan tamkin min nafsiha)

Jumhur ulama – Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali – pun berpendapat, selama istri belum bersedia untuk melakukan hubungan badan atau pisah rumah dengan suaminya karena alasan tertentu, maka sang suami tidak berkewajiban memberi nafkah.

Loading...

BACA JUGA: Suami Tak Memberi Nafkah, Apa Masih Wajib Taat Padanya?

Dalilnya tentu ada. Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akad nikah dengan Aisyah saat usia 6 tahun, sedangkan Nabi tidak menafkahinya kecuali setelah hubungan badan di usia Aisyah 9 tahun.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Bahwa ketika wanita telah menyerahkan dirinya kepada suaminya, karena alasan kewajiban, maka wanita itu berhak mendapatkan nafkah – sebagai kewajiban bagi suaminya – untuk menutupi semua kebutuhannya.” (al-Mughni, 8/195)

Karena itu, apabila mereka telah melakukan akad, lalu mereka berpisah sampai batas waktu tertentu, nafkah masing-masing boleh tetap ditanggung orang tuanya masing-masing. Setelah mereka kumpul, barulah kewajiban nafkah itu bisa dibebankan ke suami. []

SUMBER: KONSULTASI SYARIAH



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline