Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ketika Terjadi Pelecehan, Siapa yang Menanggung Dosanya?

0

Setelah adanya bukti yang membenarkan jika maksiat merupakan salah satu tindakan yang mengundang banyaknya bahaya yang terjadi.  Memang sudah sepantasnya kita saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Semangat dalam kebaikan ini perlu di kobarkan lagi.

Sehingga apabila kita sudah mengingatkan namun ternyata mereka tidak mengindahkannya, maka minimal tanggung jawab kita telah gugur untuk mengingatkannya. Namun, akan jauh lebih baik apabila kita terus mengingatkan dengan cara yang sehalus-halusnya.

BACA JUGA: Suara Wanita, Apakah Termasuk Aurat?

Tapi, jika terjadi pelecehan, siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana penyelesaiannya?

Dengan mewabahnya kebiasaan mengumbar aurat di masyarakat, tentu pelecehan seksual juga akan semakin meningkat. Terus, bila hal itu terjadi -wal iyâdzu billah-, maka siapakah yang bertanggung jawab?

Pertama, sebenarnya resiko terbesar itu ditanggung oleh korban pelecehan yaitu wanita, karena dengan terjadinya ‘kecelakan’ itu ia telah kehilangan kehormatannya. Ia harus menanggung malu seumur hidupnya dan ketika wanita telah ternoda tidak akan ada yang bisa mengembalikannya seperti semula.

Begitu pula keluarga korban (wanita), mereka akan merasa malu, dan masyarakat akan menganggap mereka tidak mampu menjaga kehormatan putrinya.

Kedua, resiko juga ditanggung oleh pelaku pelecehan, ia akan dicap sebagai orang yang fasik, amoral, dan bobrok imannya. Sedangkan keluarganya, akan dicap oleh masyarakat sebagai keluarga yang gagal dalam mendidik anaknya, dan mungkin cap buruk tersebut akan menempel terus hingga turun temurun.

Lalu siapakah yang menanggung dosanya tersebut?

Tentunya pelaku pelecehan adalah orang yang paling banyak menanggung dosanya, karena dialah sumber utama malapetaka tersebut.

Adapun korban pelecehan, kemungkinan yang pertama, bila sebelumnya ia telah berusaha menjaga auratnya dan berhati-hati, maka ia tidak menanggung dosa apapun di sisi Allâh Azza wa Jalla, karena ia murni sebagai hamba yang terzhalimi.

Namun kemungkinan yang kedua, apabila sebelumnya korban mengumbar auratnya atau bahkan menggoda pelaku pelecehan, maka korban juga menanggung dosa telah membuka pintu keburukan terhadap dirinya.

Setelah itu, bagaimana penyelesaiannya ?

BACA JUGA: Bolehkah Wanita Menopose Buka Aurat

1. Apabila pihak keluarga korban (perempuan), mengangkat kasus tersebut ke meja hijau, maka penyelesaian ada di pengadilan tersebut.

2. Namun bila pihak keluarga korban menginginkan agar kecelakaan tersebut ditutupi -karena ada unsur suka sama suka misalnya-. Maka, hendaklah masing-masing dari pelaku dan korban berusaha menutupi keburukan tersebut, dan bertaubat dengan taubat yang sebenarnya. Karena orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak ada dosa padanya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Loading...

Wallâhu a’lam. []

Sumber: majalah As-Sunnah Edisi 12, Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline