Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Mereka Pacaran, Tapi Kok Endingnya Nikah?

0

Maraknya yang hijrah membuat Umat Muslim nampak senang dengan kemajuan pemahaman Islam. Namun, ternyata yang namanya pemahaman tidak semudah itu. Memang, tak jarang yang asalnya suka nongkrong beralih ke pengajian. Dari hijab asal-asalan jadi syar’i. Begitu pula dari yang pacaran hingga memutuskan untuk sendiri.

Nah untuk yang satu ini, tentang pacaran. Pemahaman mengenai larangan mendekati zina sudah diketahui oleh banyak orang dan mulai mereka pahami.

BACA JUGA: Cinta yang Diawali dengan Pacaran

Namun, masih ada yang membuat mereka iri ternyata. Banyak yang bilang, “Mereka pacaran tapi, kok endingnya menikah dan bahagia. Bukannya Allah melarang pacaran, lalu kenapa Allah tak pisahkan mereka aja.”

Pertanyaan ini sudah cukup berlarut-larut. Dan ternyata cukup mengganggu bagi sebagian orang. Penjelasannya pertama, kalau saja dunia ini Allah anggap memiliki nilai, tentu Allah tidak mungkin memberi makan orang-orang yang kafir.

Dalam pembahasan ini kita harus ingat, dosa terbesar di sisi Allah bukanlah zina. Meski zina juga dosa besar, tapi ada dosa yang lebih mengerikan. Apa itu?

Dosa syirik. Orang yang menyekutukan-Nya. Kalau Allah berkehendak, tentu mudah saja mereka ini tidak diberi setetespun rezeki-Nya.

Tapi ternyata, tidak begitu bukan. Orang kafir tetap makan enak, pezina hidup senang dan periba pun semakin kaya. Itu karena apa? Karena harta dunia seisinya ini tidak ada nilainya di hadapan Allah.

Kedua, soal pacaran bahagia. Apa yakin mereka bahagia? Buktinya banyak suami atau istri yg selingkuh sama mantan pacar. Banyak pula yang cerai dan kecewa sama pacarnya setelah nikah.

Bagaimanapun, pacaran memang telah dan pasti merusak hakikat suci hubungan cinta.

Kalaupun sekarang mereka terlihat bahagia, bisa jadi seandainya saja mereka dahulu gak pacaran, mereka akan lebih bahagia.

Untuk poin yang ketiga, yaitu istidraj. Ketika Allah memberikan kebahagiaan kepada pelaku maksiat.

Kenapa begitu? Jawabannya, agar ketika dia bersada di puncak kesuksesan dan bahagia saat bermaksiat, Allah cabut nyawanya. Maka, dia berada dalam kekecewaan yang mendalam.

BACA JUGA: Anak Pacaran, Orang Tua yang Berdosa?

Diangkat tinggi, lalu dihempas keras. Bagaimana? Sakit bukan?

Nah jadi bagaimana? Masih mau iri sama yang maksiat?

Loading...

Sebenarnya tidak pantas jika kita memilih berhijrah, tapi tetap iri terhadap pelaku maksiat. Lebih baik iri terhadap ahli ibadah. Agar bisa memacu semangat untuk menjadi lebih baik. []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline