Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Benarkah Cukup dengan Ibadah? (Bagian 1)

0

Abu Ali, atau Syaqiq bin Ibrahim ialah seorang guru dan ulama sufi. Ia tinggal di kota Balkh, termasuk di wilayah Khurasan, yang membuatnya lebih dikenal sebagai Syaqiq al-Balkhi.

Syaqiq berasal dari keluarga saudagar kaya raya, dan mewarisi kesuksesannya itu. Ia wafat pada tahun 194 Hijriah (810 masehi). Dengan kondisi hidup yang penuh kemewahan dunia. Namun, ia melewati suatu jalan hidup yang membuatnya menjadi seorang sufi yang juhud.

BACA JUGA: Rezeki yang Tak Disangka-sangka

Suatu saat, ia membawa bermacam-macam barang dagangan bersama kafilah turki. Dari sana ia melewati tempat orang-orang yang menyembah berhala. Para pelayan atau pekerja berkepala gundul dan mencukur halus jenggotnya, ia menyaksikan mereka berpakaian serba hijau.

Ia tertarik untuk berdakwah ditempat itu, maka masuklah ia bertemu dengan seorang pelayan rumah ibadah itu.

“Wahai pelayan, sesungguhnya kamu mempunyai Tuhan Yang Maha Menciptakan, Maha Hidup, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, maka sembahlah Dia, janganlah engkau menyembah berhala-berhala ini, yang tidak bisa mencelakakan ataupun menguntungkan!”

Meski Syaqiq berpakaian mewah dan menunjukan jika dirinya pedagang kaya, tapi pelayan itu tidak merasa takut menatap tajam Syaqiq, lalu berkata, “Jika yang engkau ucapkan itu memang benar, bahwa Tuhanmu itu Maha Kuasa, tentulah la bisa memberikan rezeki kamu di negerimu sendiri, mengapa pula kamu susah-susah datang kemari untuk berniaga?”

Ternyata yang disampaikan oleh pelayan itu cukup menusuk ke dalam kalbu Syaqiq, serta telah memukul iman dan keyakinannya. Hingga akhirnya ia berpikir jika selama ini ia terlalu sibuk dengan urusan dunia. Sementara untuk bekal akhirat ia hanya melakukan sekedarnya saja.

Setelah itu, ia mengemasi perniagaannya dan kembali ke Khurasan, lalu menjalani kehidupan dengan lebih zuhud. Ttidak hanya itu, ia pun meninggalkan segala kesibukan dunia termasuk perniagaan.

Suatu ketika, Syaqiq bertemu dengan seorang budak dimana saat itu masuk pada masa paceklik dan perekonomian sulit.

Ia melihat budak itu bersenang-senang, tanpa beban hidup.

Syaqiqi pun merasa hewan, apa yang membuat budak itu bersenang-senang dalam keadaan yang seperti ini?

Lanyas ia bertanya, “Apa yang engkau lakukan ini? Tidakkah engkau melihat orang-orang mengalami kesulitan di masa paceklik ini? Sebaiknya engkau mengerjakan sesuatu yang bisa menghasilkan bagi tuanmu!!”

BACA JUGA: Ukhti, Jemputlah Rezeki Sejak Pagi Hari

Tapi, alangkah mengherankannya karena budak itu berkata, “Saya tidak perlu bersusah payah walau masa paceklik seperti ini. Tuanku seorang yang sangat kaya, ia mempunyai banyak sekali ladang di desa, yang kami semua bebas mengambil hasilnya, apapun yang kami butuhkan.”

Yang pernah ia alami, kini terjadi lagi. Ucapan itu menusuk ke kalbunya.

Loading...

“Kalau tuannya budak ini hanya seorang kaya di satu atau beberapa desa, yang sebenarnya ia miskin, dan budak ini tidak ambil pusing dengan rezekinya. Maka, bagaimana mungkin seorang muslim akan dipusingkan dengan rezekinya, sedang `tuan’nya adalah Allah Yang Maha Kaya?”

Ya, hal itu membuat jiwanya terombang ambing. []

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline