Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ibuku Sang Murabbi (2-Habis)

0

Imam Syafii dan Ibu yang Cerdas.

Ibunda Imam Syafi’I adalah seorang ahli ibadah yang cerdas. Kecerdasan Beliau tampak ketika ia menjadi salah seorang saksi di pengadilan Makkah bersama seorang saksi perempuan lain dan seorang saksi laki-laki. Ketika hakim ingin memisahkan antara kesaksian dua orang perempuan tersebut, ibunda imam Syafi’i berseru, “Kau tidak layak melakukan hal itu karena Allah telah berfirman,

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki (diantara kalian). Jika tak ada dua orang lelaki maka boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkanya.” ( Al-Baqarah: 282)

BACA JUGA: Ibu Adalah Teladan Pertama

Hingga akhirnya sang hakim menarik kembali pendapatnya.

Peran Ibunda Imam Syafi’I terhadap dirinya sangatlah besar. Seperti Imam Malik, Imam Syafi’I juga mendapat banyak pengarahan dari sang ibu dalam hal menuntut ilmu. Ibunya selalu membimbing Imam Syafi’I untuk terus meraih ilmu dengan mengirimnya dari Gahaza lalu ke Makkah. Sang ibu mengirim Syafi’I kecil agar dapat hidup tidak jauh dari pusat ilmu kala itu.

Ibunda Imam Syafi’I juga menyiapkan seluruh perbekalan perjalanan sang imam menuju Makkah. Dikisahkan oleh Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, Syafi’I pernah berkata “Ibuku mempersiapkan segalanya untuk perjalananku ke Makkah. Aku pun berangkat kesana. Ketika itu aku masih berumur sekitar sepuluh tahun. Aku menetap di rumah salah seorang kerabatku dan mulai menuntut ilmu disana.”

Kondisi Imam Syafi’I yang tumbuh dalam keadaan yatim, menjadikan sang Ibu adalah Murabbi pertamanya.

Prioritas Ibu Imam Ahmad

Ibu Imam Ahmad bernama Shafiyyah. Shafiyyah sangat memperhatikan putra yatimnya, Ahmad. Shafiyyah memilih tetap menjanda pada usianya yang terbilang muda demi mengasuh Ahmad. Pada saat itu mayoritas perempuan Arab bila ditinggal mati suaminya, cenderung untuk menikah lagi demi menjaga kehormatan dan nama baiknya. Bahkan sudah menjadi tradisi wanita ditinggal mati suami atau dicerai, harus segera menikah lagi. Tetapi berbeda dengan mayoritas perempuan Arab. Shafiyyah bertekad untuk sepenuhnya mengasuh sang putra yang kelak akan menjadi Imam Besar Sepanjang Zaman. Padahal ketika ditinggal Suami, Shafiyyah masih berusia 30 Tahun.

Kasih sayang dan perhatian penuh yang diberikan oleh sang ibu, telah mendidik Ahmad tumbuh menjadi seorang Pemuda yang berbakti kepada orang tuanya. Pernah suatu ketika  Ahmad menolak menyeberangi sungai Tigris untuk sekedar menerima hadits bersama teman-temannya dari Jarir ibn Abdul Hamid, Ulama Ahli Ra’yu. Saat teman-temannya mengajaknya, Ahmad mengatakan “Ibuku tidak mengizinkanku melakukannya.” Padahal, ketika itu umur Ahmad sudah 22 tahun.

Dalam menuntut ilmu Ahmad selalu mengutamakan mendapat ridha dari sang ibu. Karena beliau tahu mendapatkan Ridha sang Ibu adalah sunnah Rasulnya.

“Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata; Rasulullah Saw. bersabda; Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua.” (HR. Al-Baihaqy)

Kehebatan para Imam Madzhab ternyata tak lepas dari kehebatan Murabbi mereka yaitu, kontribusi para ibunda. Karena ibu adalah madrasah pertama pendidikan seorang anak. Kita dapat mengambil pelajaran dari ibu para imam bagaimana mendidik seorang anak. Seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i yang diberi arahan oleh sang ibu dalam menuntut ilmu. Mereka dipersiapkan perbekalannya dalam mengarungi samudera ilmu yang sangat luas. Seorang ibu juga harus memberikan prioritas hidupnya mendidik sang anak layaknya ibu Imam Ahmad. karena setiap ibu harus paham, mendidik anak bukanlah sambilan tetapi keutamaan.

Sudah sepantasnya seluruh umat Islam mulai memperhatikan peran ibu dalam mendidik sang anak. Pengadaan sekolah calon ibu, sekolah pra nikah yang mulai gencar saat ini adalah suatu kemajuan yang patut disyukuri dan ditindaklanjuti. Seperti apa yang penulis tuliskan di awal, “Pendidikan di sekolah hanyalah sementara, sedangkan pendidikan dari seorang ibu adalah selamanya.” []

HABIS



Artikel Terkait :

Loading...

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline