Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ibuku Sang Murabbi (1)

0

Oleh: Muhammad Ihsan

Dalam sebuah pengajian di daerah Bekasi, seorang Ustadz (Sebut Saja, ustadz Ilham) menceritakan pengalamannya ketika melamar menjadi dosen di sebuah Perguruan Tinggi Islam. Ia Mendapatkan rekomendasi dari ketua yayasan PTI tersebut untuk mendaftarkan diri menjadi dosen.

BACA JUGA: Ibu Rumah Tangga, Begini Menyikapi Kenaikan Harga

Ketua yayasan tersebut berjanji akan menerima beliau sebagai dosen. Akhirnya ustadz Ilham mencoba untuk mendaftarkan dirinya.

“Terima Kasih Pak Ilham, sudah melamar menjadi dosen di tempat kami,” tutur pak Hasan yang mewakili Pihak Kampus.

“Saya Juga berterima kasih telah disambut hangat oleh pihak kampus,” jawab ustadz Ilham tak kalah hangatnya.

“Kalo boleh tahu, pak Ilham punya Murabbi?” Pak Hasan mengajukan pertanyaan cukup serius.

“Alhamdulillah ada pak,” ustadz Ilham menjawab santai.

“Kalo boleh tahu siapa Murabbinya?” Rasa penasaran menyelimuti Pak Hasan.

“ Ibu Saya,” jawab Ustadz Ilham.

Pembicaraan terhenti beberapa saat. Mungkin pak Hasan terkejut atas jawaban ustadz Ilham. Pak Hasan mengira-ngira apakah jawaban sang ustadz hanya selorohan ringan atau jawaban sungguhan. Yang pasti seorang ibu menjadi murobbi, dalam pemahaman pak Hasan  adalah sesuatu hal yang jarang terjadi.

“Pak Ilham terima kasih sudah melamar di PTI Kami, Nanti akan kami kabari bapak diterima atau tidak,” pungkas pak Hasan mengakhiri pembicaraan.

Akhirnya ustadz Ilham pulang, dan tidak pernah kembali ke ruangan itu. Karena memang tidak pernah datang kabar ia diterima disana. Ia selalu berpikir, apakah salah jika dirinya menyatakan bahwa “Murabbinya adalah Ibunya sendiri?”

Kisah diatas adalah kisah nyata yang disampaikan sang ustadz dalam pengajian rutinnya.

Kisah ini sedikit banyaknya menggambarkan proses pendidikan Indonesia saat ini telah disempitkan artinya hanya berada di sekolah. Sehingga pemerintah belum memprioritaskan pendidikan keluarga bagi para calon ibu. Padahal pendidikan di sekolah hanyalah sementara, sedangkan pendidikan dari seorang ibu adalah selamanya. Sehingga banyak pemuda-pemudi muslim saat ini merasa tak dididik (tertarbiyah) oleh ibu atau kedua orangtuanya. Wajar jika ungkapan “Murabbiku adalah Ibu” menjadi hal yang sangat asing.

Padahal jika kita mau mengambil pelajaran dari proses pendidikan orang-orang besar. Kita akan tahu betapa besarnya tanggung jawab proses pendidikan dari  seorang ibu. Ulama Dari Kuwait , Dr. Tariq Suwaidan penulis Biografi 4 Imam Mazhab menuliskan kisah tentang besarnya peran seorang ibu bagi proses pendidikan Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad.

Loading...

Ibu Imam Malik sang Pendidik.

Pada masa kecilnya, Imam Malik memiliki kecenderungan kepada lagu dan musik. Ibunyalah yang telah membuat Imam Malik meninggalkan dunia lagu dan musik beralih ke dunia ilmu hingga akhirnya menjadi Ulama Fiqih yang ilmunya terus bermanfaat hingga saat ini.

Imam Malik menuturkan:

Pada masa kecilku, aku sangat menyukai para penyanyi. Ibuku tahu aku sangat gandrung dengan nyanyian, tapi ia merasa bahwa teladan yang kuidamkan tidak tepat dan tidak benar. Ia pun memalingkan aku dari lagu-lagu itu. Ia berpesan, “Seorang penyanyi, jika ia buruk rupa, maka lagunya tidak akan dilihat dan didengarkan. Karena itu tinggalkanlah lagu dan tuntutlah ilmu fiqih!”

Imam melanjutkan:

Aku pun akhirnya meninggalkan para penyanyi itu dan mengikuti para fuqaha sehingga Allah mewujudkan cita-citaku seperti sekarang.

Pada suatu hari ibuku datang membawakan pakaian kebesaran para ulama. Ia mengenakannya untukku dan memasangkan kopiah di kepalaku. Ia memasangkan balutan di kopiah itu, lalu menarikku seraya berkata, “Sekarang, pergilah!” Ia menunjukkan kepadaku seorang ulama.

Ternyata pendidikan dari ibu sang imam tidak hanya sebatas memotivasi anaknya untuk menjadi ulama, bahkan sang ibu juga memberikan pengarahan dalam proses pendidikan sang Imam.

Sang Ibu berpesan kepada Imam Malik, “Pergilah ke tempat Rabi’ah, pelajari akhlaknya sebelum kau mempelajari ilmunya.” Sungguh pengarahan yang luar biasa dari seorang ibu yang mulia. Ia paham bahwa sang anak harus mengutamakan akhlak di atas ilmu.

BERSAMBUNG

 



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline