Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Harus Mandi Junub tapi Sedang Sakit, Bagaimana?

0

Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Hukumnya sangat sempurna, mulai dari cara beribadah hingga muamalah. Tidak ditemukan jalan buntu secara syariat bila terjadi permasalahan. Selalu ada tuntunan di dalamnya. Alhamdulillah.

Nah, salah satunya adalah dalam masalah bersuci dan mandi janabah. Bila seseorang dalam keadaan sakit atau terluka kemudian tidak mampu untuk mandi (terkena air), maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mencelakakan diri sendiri.

Dan sebagai gantinya, cukuplah dilakukan tayammum saja, sebab tayammum itu bukan hanya berfungsi sebagai pengganti wudhu’, namun juga termasuk sebagai penggantai mandi janabah.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

Dari Jabir berkata: Kami dalam perjalanan, tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan terluka kepalanya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya, “Apakah kalian membolehkan aku bertayammum?”

Teman-temannya menjawab, “Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air.” Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi).

Ketika kami sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu, bersabdalah beliau, “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum…” (HR Abu Daud 336, Ad-Daruquthuny 719).

BACA JUGA: Jika Jima Malam Hari, Haruskah Langsung Mandi Junub?

Namun bila masih memungkinkan tubuhnya untuk mandi dengan air, kecuali hanya bagian yang terlukanya saja, boleh saja tetap mandi dengan meninggalkan bagian yang luka. Biasanya bagian luka itu ditutup dengan perban, yang di dalam istilah fiqih disebut dengan jabiirah.

Hal ini telah disepakati para ulama, bahwa diperbolehkan tidak mengguyur perban itu dengan air saat bersuci, baik yang berbentuk wudhu’ maupun mandi janabah. Sebagai gantinya, para ulama mengatakan bahwa perban itu cukup diusap saja dengan tangan yang basah dengan air, tidak perlu diguyur atau pun dicelupkan.

Landasan hukumnya adalah apa yang kita terima dari hadits mulia berikut ini,

Dari Ali ra. berkata: Pergelangan tanganku terluka pada saat perang Uhud, maka bendera terlepas dari tanganku. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Letakkanlah bendera itu di tangan kirinya, karena Ali adalah pembawa benderaku di hari kiamat.” Aku bertanya, “Apa yang harus aku lakukan dengan perban ini?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Usapkan saja di atasnya.”

Namun juga hal tersebut tentu memiliki syarat-syarat tertentu. []

 

SUMBER: ERAMUSLIM



Artikel Terkait :

Loading...

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline