Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ruh Terkatung-katung Karena Utang

0

Utang piutang bukanlah sesuatu yang terlarang dan diharamkan dalam Islam, namun bagaimana adab utang piutang dengan segala ketentuan dan persyaratannya, itu yang menjadi titik berat. Jangan sampai kita menyepelekan adab dalam utang piutang.

Untuk jiwa yang berutang kemudian ia meninggal tanpa dibayarkan ahli waris atau keturunannya, ruh yang berutang itu akan terkatung-katung karena utangnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

نفس المؤمن مُعَلّقة بدَيْنِه حتى يُقْضى عنه

“Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena utangnya sampai utangnya dilunasi” (HR. Tirmidzi no. 1079, ia berkata: “hasan”, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Apa yang dimaksud dengan ruhnya terkatung-katung?

Al Mula Ali Al Qari menjelaskan:

فَقِيلَ: أَيْ مَحْبُوسَةٌ عَنْ مَقَامِهَا الْكَرِيمِ، وَقَالَ الْعِرَاقِيُّ: أَيْ: أَمْرُهَا مَوْقُوفٌ لَا يُحْكَمُ لَهَا بِنَجَاةٍ وَلَا هَلَاكٍ حَتَّى يُنْظَرَ، أَهَلْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ مِنَ الدَّيْنِ أَمْ لَا؟

“Sebagian ulama mengatakan: ruhnya tertahan untuk menempati tempat yang mulia. Al Iraqi mengatakan: maksudnya, ia (di alam barzakh) dalam kondisi terkatung-katung, tidak dianggap sebagai orang yang selamat dan tidak dianggap sebagai orang yang binasa sampai dilihat apakah masih ada hutang yang belum lunas atau belum?” (Mirqatul Mafatih, 5/1948).

BACA JUGA: Jangan Sepelekan, Ini 11 Adab Utang Piutang

Ash Shan’ani mengatakan:

وَهَذَا الْحَدِيثُ مِنْ الدَّلَائِلِ عَلَى أَنَّهُ لَا يَزَالُ الْمَيِّتُ مَشْغُولًا بِدَيْنِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Hadits ini adalah diantara dalil yang menunjukkan bahwa mayit terus berada dalam kerepotan karena hutangnya, setelah kematiannya” (Subulus Salam, 1/469).

Syaikh Ibnu Al Utsaimin menjelaskan:

أن نفسه وهو في قبره معلقة بالدين كأنها والله أعلم تتألم من تأخير الدين ولا تفرح بنعيم ولا تنبسط لأن عليه دينا

“Jiwa orang yang meninggal di dalam kuburnya terkatung-katung karena hutangnya. Seakan-akan -wallahu a’lam- ia merasakan kepedihan karena menunda pembayaran hutang, dan ia tidak bahagia di alam kubur, dan tidak diluaskan kuburnya, karena ia memiliki hutang” (Syarah Riyadish Shalihin, 4/553).

Maka, jangan bermudah-mudah berutang, dan segera lunasi utang dengan sungguh-sungguh sebelum ajal menjemput. []

 

Loading...

SUMBER: FAWAID KANGASWAD



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline