Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jangan Sampai Bisnis Melalaikan Kita

0

Banyak hal yang berpotensi mencuri hati kita dari rasa cinta kepada Allah Swt. Salah satunya adalah bisnis kita. Tidak jarang manusia yang begitu asyik dengan kegiatan bisnisnya karena kuntungan besar yang akan didapatkannya dari bisnis itu.

Salah satu contohnya adalah seseorang yang begitu berat menunda bisnisnya manakala adzan berkumandang. Padahal isi panggilan adzan itu mengajak kepada kemenangan hakiki. Sayangnya, keuntungan semu dari bisnis lebih memikat hatinya.

BACA JUGA: Pelihara Shalat, Jangan Sampai Lalai

Semestinya tidak ada alasan bagi seorang pedagang untuk lebih mengutamakan bisnisnya daripada shalat. Meskipun pasar sedang rame-ramenya, sesungguhnya itu adalah ujian. Allah tengah menguji bagaimanakah keseriusan dirinya dalam beribadah terhadap-Nya. Manakah yang lebih dia utamakan, apakah Allah ataukah bisnisnya. Padahal Allah adalah Dzat Yang Kuasa memberikan atau menahan rezeki baginya.

Lalu apakah yang seharusnya dilakukan seorang pedagang ketika adzan berkumandang? Segera tutup tempat dagangnya, berangkat ke masjid dan ajaklah pula karyawan. Kalau bisa, ajaklah pula konsumennya untuk ikut serta menunaikan shalat terlebih dahulu.

Ketika pedagang di sebelah kita tidak memenuhi panggilan adzan dan ternyata ia mendapatkan lebih banyak uang daripada kita, maka yakinilah bahwa mendapatkan banyak uang itu tidak jaminan mendapatkan banyak pahala. Banyak mendapatkan uang juga bukan jaminan hati menjadi kaya.

Tidaklah perlu merasa iri hati ketika melihat orang yang lalai dalam shalatnya tapi dia kaya raya. Karena kaya raya itu bukan jaminan kebahagiaan. Tidaklah mungkin Allah Swt memasukkan ketenangan dan kebahagiaan ke dalam hati orang yang tidak taat kepada-Nya. Tidak mungkin Allah Swt menyusupkan ketenangan dan kebahagiaan ke dalam hati pelaku maksiat.

Allah Swt berfirman,  “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. Al Fath [48]: 4).

Oleh karena itu, tidak perlu iri hati melihat orang yang lalai beribadah kepada Allah namun memiliki harta berlimpah. Karena sungguh, sikap lalai dan maksiat itu adalah sumber kesengsaraan. Maka, berbuatlah yang baik dan benar sesuai dengan apa yang diridhai Allah Swt. Jujurlah dalam berdagang, periksalah selalu timbangan agar bersih dari unsur curang, hindari berdusta tentang barang yang didagangkan.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu,” (QS. Ath Thalaq [65]: 2-3).

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman,” (QS. Ash Shaff [61]: 10-13).

Jadikanlah bisnis kita sebagai bentuk ketaatan kita kepada Rasulullah Saw. Jadikan pula bisnis sebagai lahan jihad kita. Karena sesungguhnya di dalam bisnis pun ada perjuangan menegakkan kebenaran Islam. Sebagaimana Rasulullah Saw pun dahulu melakukan perniagaan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.[]

SUMBER: Nasihat-naasihat Aa Gym



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline