Breaking News
Foto: Hetman80 - DeviantArt

Zaman Jahiliyah, Sepeninggal Suami, Istri Adalah Warisan

 

Pada masa jahiliyah ketika seorang laki-laki meninggal, apa yang diwariskannya tidak hanya berupa harta dan benda. Istri-istri yang ditinggalkan pun merupakan bagian dari warisan. Istri-istri tersebut bebas diperlakukan seperti apa pun karena mereka bagian dari apa yang harus dibagikan kepada wali almarhum suami mereka.

Kebiasaan tersebut adalah perilaku yang keji dan tidak menghormati perempuan. Allah pun tidak menyukai perilaku tersebut hingga Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah Menjadikan padanya kebaikan yang banyak,” (Q.S An-Nisa: 19).

Dalam suatu riwayat yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud,dan an-Nasa-i, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Dikemukakan bahwa di zaman jahiliah apabila seorang laki-laki meninggal, maka wali si mati lebih berhak atas istri yang ditinggalkannya.

Sekiranya si wali ingin menikahinya atau menikahkannya kepada orang lain, ia lebihberhak daripada keluarga perempuan tersebut. Maka turunlah ayat tersebut sebagai penegasan tentang kedudukan wanita yang ditinggal suaminya.

Sementara dalam riwayat lain yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan, bersumber dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Dikatakan ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, anaknya ingin menikahi istri ayahya (ibu tirinya). Pernikahan seperti ini merupakan kebiasaan jahiliyah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut. Dan melarang menjadikan perempuan sebagai harta waris.

Islam hadir benar-benar dengan cahaya terangnya. Islam memuliakan perempuan dengan begitu luar biasa. Berbanggalah para muslimah karena hanya Islamlah yang mampu memuliakannya sedemikian rupa. Jangan terpengaruh dengan budaya-budaya yang menjauhkan diri dari Islam. Sebab semua aturannya begitu sempurna dan menyempurnakan. []

Sumber: Asbabun Nuzul. K.K.Q Shaleh, H.A.A Dahlan dkk. Diponegoro: Bandung, 2000.

 



Artikel Terkait :

About Karisa Pyeli

Check Also

rasa syukur, kecantikan, anugrah dari Allah

10 Bahan Alami Mencerahkan Bibir

Keindahan bibir dilihat dari bentuk dan warnanya, konon bibir dengan warna merah merona merupakaan dambaan setiap wanita. Begitu pentingnya bibir bagi penampilan kaum Hawa, bahkan membuat orang rela melakukan berbagai cara memerahkan bibir.

Tinggalkan Balasan