Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Apa Balasan Kita terhadap Orang Tua?

0

Ibu adalah sosok yang namanya disebutkan tiga kali oleh Rasulullah dalam kebaktian seorang anak. Begitu mulia dan istimewanya seorang ibu. Kenapa? Karena ibu melakukan tiga hal yang tidak bisa dilakukan oleh ayah, yaitu: mengandung, melahirkan dan menyusui, tentu hal ini tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah bukan.

Renungkan ini:

Saat kita berusia 1 tahun, orang tua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.

Saat kita berusia 2 tahun, orang tua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orang tua memanggil kita.

Saat kita berusia 3 tahun, orang tua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.

BACA JUGA: Betapa Banyak Kebaikan Ibu

Saat kita berusia 4 tahun, orang tua memberi kita pensil warna. Sebagai balasannya kita malah mencoret-coret dinding.

Saat kita berusia 5 tahun, orang tua membelikan baju yang bagus-bagus. Tetapi malah kita mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.

Saat kita berusia 10 tahun, orang tua membayar mahal-mahal uang les dan sekolah kita. Sebagai balasan kita malah malas-malasan bolos.

Saat kita berusia 11 tahun, orang tua mengantarkan kita ke mana-mana. Sebagai balasan kita tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.

Saat kita berusia 12 tahun, orang tua mengizinkan menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasan kita malah meminta orang tua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.

Saat kita berusia 13 tahun, orang tua membayar uang kemah, uang pramuka dan uang liburan kita. Sebagai balasan kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah.

Saat kita berusia 14 tahun, orang tua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”

Saat kita berusia 17 tahun, orang tua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.

Saat kita berusia 18 tahun, orang tua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokkan harinya.

Saat kita berusia 19 tahun, orang tua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, “Papa, Mama, aku malu! Aku ‘kan sudah gede!”

Loading...

BACA JUGA: Jalani Peran Ibu Rumah Tangga dengan Sepenuh Hati

Saat kita berusia 22 tahun, orang tua memeluk kita dengan haru ketika kita di wisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, “Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?”

Saat kita berusia 23 tahun, orang tua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, “Duh! kalau mau beli apa-apa, untuk aku, bilang-bilang dong! aku kan nggak suka model seperti ini!”

Saat kita berusia 24 tahun, orang tua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah keluar kota, meninggalkan mereka, dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.

Saat kita berusia 30 tahun, orang tua memberi tahu kita bagaimana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata, “Papa, Mama, zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu.”

Saat kita berusia 35 tahun, orang tua sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralasan, “Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku.”

Dan entah kata-kata apalagi yang  pernah kita ucapkan kepada orang tua kita. []

 

Tulisan ini menyesuaikan dengan kondisi, apabila ia seorang istri tentu kebaktian dan ketaatannya lebih pada suami

Kami kesulitan menyertakan sumber pertama



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline