Breaking News
Foto: Natural Health 365

Istri Gugat Cerai Suami, Bolehkah?

Saat ini marak di infotainment dan berita lainnya mengenai seorang istri yang menggugat cerai suaminya. Trend yang berhembus akhir-akhir ini diwarnai prinsip bahwa perempuan memiliki kewenangan seluas-luasnya di era modern.

Lantas apakah Islam memperbolehkan seorang wanita menggugat cerai. Jawabannya adalah seorang istri diperbolehkan menggugat cerai suaminya apabila ada dalam kategori berikut,

1. Apabila seorang suami telah nampak kebenciannya pada sang istri. Namun karena kebencian tersebut pula ia enggan menceraikan istrinya untuk melihatnya tersiksa.

2. Tabiat buruk suami, seperti senang menghina, memukuli istri, dan tidak memperlakukan istri secara manusiawi.

3. Apabila suami tidak menjalankan perintah agama. seperti tidak menjalankan solat, puasa, zakat dan kewajiban lainnya.

4. Apabila suami tidak melaksanakan kewajiban lahiriah dan batiniah bagi sang istri.

5. Seorang suami yang tidak mampu menggauli istrinya dengan baik, seperti seorang suami yang cacat, tidak mampu memberikan nafkah batin (jimak), atau jika dia seorang yang berpoligami dia tidak adil terhadap istri-istrinya dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau, jarang, enggan untuk memenuhi hasrat seorang istri karena lebih suka kepada yang lainnya.

6. Hilangnya kabar dari suami selama 4 tahun berturut-turut. seperti diriwayatkan dari Umar Ra, bahwasanya telah datang seorang wanita kepadanya yang kehilangan kabar tentang keberadaan suaminya. Lantas Umar berkata: tunggulah selama empat tahun, dan wanita tersebut melakukannya. Kemudian datang lagi (setelah empat tahun). Umar berkata: tunggulah (masa idah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian wanita tersebut melakukannya. Dan saat datang kembali, Umar berkata: siapakah wali dari lelaki (suami) perempuan ini? kemudian mereka mendatangkan wali tersebut dan Umar berkata: “ceraikanlah dia”, lalu diceraikannya. Lantas Umar berkata kepada wanita tersebut: “Menikahlah (lagi) dengan laki-laki yang kamu kehendaki”. (HR Ad-Dar qutni)

7. Saat sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik.

“Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?”. Maka ia berkata, “Iya”. Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, “Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !” (HR Al-Bukhari no 5373)

Maka tidak dibenarkan apabila seorang istri menggugat cerai hanya karena bosan, merasa nafkah yang diberikan kurang, terlebih lagi apabila dikarenakan hadirnya laki-laki baru yang lebih mampu mencukupi kebutuhan sang perempuan. []

Sumber : http://www.kabarmuslimah.com

 



Artikel Terkait :

About Karisa Pyeli

Check Also

Mengajarkan Adab Masuk Kamar Mandi pada Anak

Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki kamar mandi, lalu dia mengucapkan 'bismillah'

Tinggalkan Balasan