Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Para Istri, Waktunya Introspeksi (1)

0

Banyak para istri yang mengeluhkan sikap suami mereka dan kurangnya mereka dalam mempergauli istri dengan cara yang baik dan menampakkan kecintaan, sehingga hal tersebut termasuk yang menghilangkan sakinah dan ketenangan serta mengeruhkan kehidupan dan kebahagiaan mereka.

Namun sang istri tidak tahu bisa jadi dialah sebenarnya yang menjadi sebab dari semua itu. Karena itulah dia terus merasa jengkel, mengeluh, menangis, dan mencaci maki suaminya. Istri tidak pernah sehari pun instropeksi terhadap dirinya dan meneliti dulu perkaranya agar mengetahui bisa jadi dialah sebenarnya yang menjadi sebab dari semua itu.

Suamimu berbuat baik kepadanmu sekian lama memberikan semua pengorbanan dan hartanya setiap tetes keringatnya, setiap keluh kesahnya tak dihiraukan hanya untuk menyenangkan istri, hingga ketika dia melihat sesuatu atau kekurangan pada suaminya pada suatu hari, dia mengatakan kepada suaminya tersebut:

“Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.”

Sikap semacam ini berulang kali terjadi, setiap kali ada sesuatu yang tidak menyenangkannya baik yang sepele atau sesuatu yang perlu diperhatikan, bangkitlah kemarahannya dan ribut seperti ombak lautan yang bergemuruh disertai kilatan petir yang seolah menyambar telinga sang suami.

BACA JUGA: Suami Marah-marah, Ketika Dijelaskan Malah Dikatakan Melawan

Dia tidak pernah tenang dari kecemasannya sehari pun dan tidak melaksanakan wasiat yang agung ini. Padahal seandainya dia mau melaksanakannya sehari saja, niscaya dia akan melihat kebaikan yang banyak dan akibat yang menyenangkan yang membuahkan kasih sayang, kebaikan, cinta, dan respek besar di hati suaminya yang dia anggap zhalim dalam pandangannya itu.

Jadi apakah pernah suatu hari ketika engkau sebagai istri yang merasa terzhalimi, engkau bangkit lalu memegang tangan suamimu yang engkau anggap zhalim itu kemudian engkau cium tangannya, karena hakekatnya engkau hanyalah seorang tawanan di sisinya, lalu engkau katakan kepada suamimu:

“Wahai suamiku, Aku tidak akan bisa tidur nyenyak dan tidak akan bisa memejamkan mata hingga engkau ridha kepadaku.”

Cobalah cara ini dan gunakan untuk menghancurkan puncak kesombonganmu karena engkau merasa memiliki lebih dalam berbagai hal dan hancurkanlah sikap lancangmu terhadap suami yang letih dan lelah demi kebahagiaanmu dan ketenangan rumah tanggamu!

Sesungguhnya yang demikan itu akan mengalirkan di hati dan jiwa suami kelembutan dan cinta seperti gejolak gunung berapi yang menyala-nyala dan dia akan memandangmu dengan penuh pemuliaan dan respek dan ridha kepadamu.

Hal itu juga akan memutus jalan syaithan atau pintu yang dia gunakan untuk masuk dalam rangka mencabi-cabik ikatan janji yang mulia ini. Dan engkau pun akan bisa tidur dalam puncak ketenangan dan sakinah dalam keadaan Allah ridha kepadamu dan malaikat tidak melaknatmu.

Berdamailah dengan hati yang tulus, mendekatlah kepada suamimu setelah reda emosi dan kemarahannya, dan jangan sampai engkau yang justru menunggu hal itu darinya, karena sesungguhnya yang terbaik dari kalian berdua adalah yang bersegera mendahului memperbaiki tali cinta dan kasih sayang.

Ketika suatu hari engkau merasa jengkel terhadap sikap suamimu dan engkau mengeluhkan kekasarannya, pernahkah engkau memikirkan apakah sebab-sebab yang menjadikannya bersikap diam kepadamu, menjauh darimu, marah kepadamu, dan lari darimu? Padahal sebelumnya engkau merupakan penyejuk matanya!

Wahai Para istri…

Kenapa engkau lalai dari perkara ini dan selalu melemparkan celaan kepada suami dan mengeluhkan kepada orangtua, yang justru makin membuatmu tambah berdosa keluar rumah tanpa seizin suami?

Loading...

Coba duduklah dengan tenang sehari saja bersama hatimu, telitilah dirimu dan di sudut mana bersembunyinya penyakit dan kekurangan itu, dan lihatlah sebab-sebab yang mendorong suamimu melakukan hal-hal yang engkau keluhkan itu!

Ulangilah pandanganmu kepada perkara-perkara yang dibenci oleh seorang suami pada diri istri dan jauhilah perkara-perkara tersebut! Kemudian tampakkanlah kecintaan kepadanya dengan hal-hal yang dia sukai ada pada dirimu! Ketika itu kehidupan akan berubah dan akan kembali seperti pada hari-hari pertama bagi sangkar emas, sebagaimana istilah yang dikatakan oleh manusia.

Jika engkau ingin suasana cerah bagimu agar engkau merasakan kebahagiaan, angin kelembutan bertiup dengan tenang, ikatan cinta semakin kuat dan terus terasa baru, dan engkau merasakan kesenangan dalam hidupmu, maka ambillah nasihat ini dan instropeksilah dirimu, dan engkau jangan terburu-buru bertindak dengan membalas suatu perbuatan dan membuat keputusan serta mengadu tanpa sebab yang menuntutnya!

BACA JUGA: Para Istri Jangan Marah, Inilah Adab Suami pada Istri

Beberapa perkara-perkara yang dibenci oleh seorang suami pada istrinya. Sebelumnya ketahuilah –baarakallahu fiik– bahwa sesungguhnya jiwa seseorang memiliki sifat sensitif dan lari menghindari sebagian akhlak dan kebiasaan serta perkara-perkara yang rendah.

Dan semacam ini merupakan fitrah yang Allah jadikan pada hamba-hamba-Nya. Hanya saja memang perkara-perkara yang dijauhi manusia ini berbeda-beda keadaannya dan bertingkat-tingkat penilaiannya menurut seseorang.

Lalu apa saja penyebab semua itu?

1. Tidak taatnya istri dan bersikap merasa tinggi kepada suami hanya karena sebab sepele atau perkara-perkara yang perlu diperhatikan, padahal seorang istri merupakan tawanan di kerajaan suaminya.

2. Tidak memenuhi panggilan suami ke ranjang dengan dalih capek, anak-anak, dan lain-lain.

3. Meninggikan suara di hadapan suami dan berteriak ketika membantahnya atau mendebatnya, atau dengan meninggikan suara kepada anak-anak di hadapannya, atau memukul mereka di hadapannya.

4. Memalingkan muka dari suami, takabbur dan menyombongkan kecantikannya atau nasabnya atau hartanya, tidak menurut dan tidak mentaati perintahnya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah. Jadi suami adalah pemilik kerajaan rumah tangganya,

Tetapi dia sebagai istri ingin menguasai suami dan kerajaannya, hartanya bukan untuk memperbaikinya, tetapi untuk memuaskan kemauan dan kepentingannya.

5. Mendesak dan terus-menerus ketika meminta sesuatu walaupun bukan dalam perkara yang sifatnya darurat atau dibutuhkan, tidak ridha dan tidak merasa cukup dengan keadaan suami ketika dalam kelapangan dan kesempitan, serta membebani suami dengan hal-hal yang tidak dia mampu yang memberatkan bebannya.
6. Tidak konsekuen dengan batasan-batasan rumah tangga, misalnya seorang istri seharusnya adalah seperti tawanan di kerajaan suaminya yang suaminya tersebut memiliki kepemimpinan yang sifatnya mutlak dan berhak bertindak di rumahnya dalam batasan-batasan yang ma’ruf.
Jadi sang istri berusaha merusak hubungan suami dengan kedua orang tuanya, kerabatnya, terkhusus ibunya. Ingatlah para istri kau tidak berhak atas ibu dari suamimu, karena tanggung jawab suami tidak akan putus terhadap orangtuanya.

 

Bersambung..



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline