Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bolehkah Mempersyaratkan Jangan Poligami pada Calon Suami?

0

Muncul pertanyaan dari sebagian muslimah tentang “Bolehkah seorang wanita memberikan syarat kepada laki-laki yang hendak menikahinya agar tidak berpoligami atau justru sebaliknya seorang laki-laki yang memberikan persyaratan dengan tidak akan berpoligami jika pinangannya diterima oleh pihak wanita?

Pada asalnya syarat dalam pernikahan ada dua macam,

1. Syarat yang dapat menyebabkan syah atau tidak akad nikah.

2. Syarat yang dipersyaratkan dalam akad nikah yang diajukan oleh salah dari calon pasangan atau keduanya dan bukan termasuk syarat syah akad nikah.

Diantara contoh syarat yang tidak termasuk dalam kategori syarat syah nikah adalah boleh atau tidak pihak wanita mengajukan persyaratan kepada pihak laki-laki yang meminang agar tidak berpoligami? Atau pihak laki-laki sendiri yang mengajukan persyaratan tersebut meskipun masih diperselisihkan.

Para Ulama’ berbeda pendapat berkaitan boleh atau tidak persyaratan tersebut. Adapun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Jumhur Ulama’ yang menyatakan bolehnya, apalagi jika yang menyaratkan berasal dari pihak laki-laki. Bagi suami wajib untuk memenuhi dan menunaikan persyaratan tersebut dan jika pada akhirnya ia mengingkarinya maka pihak wanita (istri) berhak untuk membatalkan akad nikah atau mengajukan gugatan cerai (khulu’) kepada suaminya.

BACA JUGA: Hukum Wanita Membenci Poligami

Diantara dasar pijakannya:

1. Keumuman dalil-dalil yang memerintahkan seseorang untuk menunaikan janji atau kesepakatan, seperti firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah kesepakatan-kesepakatan itu.” (QS. Al-Maidah: 1)

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Syarat yang paling berhak untuk ditunaikan adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan (para wanita).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sementara persyaratan “tidak berpoligami” adalah persyaratan yang diajukan oleh pihak wanita dalam akad nikahnya, sehingga wajib bagi pihak laki-laki untuk menunaikannya. Apalagi jika persyaratan tersebut diberikan oleh pihak laki-laki sendiri.

3. Rasulullah bersabda, “Kaum Muslimin akan selalu tetap di atas persyaratan mereka, kecuali persyaratan yang mengharamkan perkara yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

4. Hukum asal dalam akad dan transaksi jika telah diridhai oleh kedua belah pihak adalah MUBAH kecuali ada dalil yang mengharamkan.

Maka seluruh persyaratan yang hukum asalnya mubah (boleh), maka boleh dijadikan persyaratan jika diridhai (disepakati) oleh kedua belah pihak.

Oleh karena itu, hendaklah setiap calon pasangan suami istri memperhatikan hal-hal berikut:

1. Para lelaki yang hendak menikah, hendaklah tidak mengajukan atau memberikan persyaratan yang demikian tanpa dipersyaratkan oleh pihak wanita, karena ini termasuk menjerumuskan diri dalam kesulitan.

Loading...

BACA JUGA: Jika Poligami, Apakah Harus dengan Janda dan Tua?

2. Jika pihak wanita mempersyaratkan “tidak poligami”, maka hendaknya pihak laki-laki tidak langsung menerima kecuali setelah pertimbangan yang matang.

3. Bagi wanita jika memberikan persyaratan tersebut, hendaknya bukan karena benci atau mengingkari syari’at poligami namun karena kondisi yang mendesak dan karena alasan-alasan yang kuat.

4. Jika akhirnya setelah persyaratan tersebut diridhai oleh kedua belah pihak, dan suami tetap berpoligami, maka pihak istri memiliki hak pilihan, yaitu menggugurkan persyaratan tersebut dan menerima suaminya yg telah menyelisihi janjinya sehingga berpoligami, atau dengan memutuskan akad pernikahan tersebut.

Wallaahu a’lam.

 

Disarikan dari jawaban Ustadz Firanda, MA di Firanda.com



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline