Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bahayanya Mati dengan Berbekal Hutang

0

Sering mendengar bukan kata ‘Janji adalah hutang’. Ya, itu yang menjadi alasan pelaku yang memiliki hutang untuk terus membayarnya dengan janji. Hingga akhirnya pura-pura lupa, dan terlupakan.

Tidak membayar hutang memang keuntungan bagi si pelaku, namun hanya keuntungan sementara di dunia saja. Jika si peminjam mendapat kerugian didunia karena uangnya tidak dikembalikan, maka di akhirat di peminjam akan mendapat bayaran yang berlipat, apalagi disertai ikhlas.

Namun, ketahuilah para pelaku hutang, selain kamu mendzalimi orang lain dengan tidak mengembalikan dan memberikan haknya, kamu juga mendzalimi diri sendiri. Rugilah jika sampai mati hutang itu tidak terbayar.

BACA JUGA: Jika Banyak Hutang, Ini Pesan Nabi (1)

Dalam salah satu hadits, Rasulullah bersabda ““Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga”. (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)”. Maka kita dapat simpulkan bahwa salah satu penghalang kita masuk kedalam surga Allah adalah hutang.

Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang.

Secara hukum, hutang-piutang diperbolehkan dalam Islam, namun akan menjadi hal lain jika yang berhutang tidak memiliki niatan untuk melunasi hutangnya.

Ibnu Umar mengingatkan kita dengan hadits Rasulullah yang berbunyi “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.”

Dalam riwayat lain, kita bisa ambil pelajaran dimana Rasulullah enggan menyolati orang yang masih berhutang sampai ada orang lain yang menanggung hutangnya. “Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?”

Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.”

Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”.

Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!”

Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?”

Loading...

Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.”

Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”

Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.”

Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.

BACA JUGA: Zina Adalah Hutang?

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?”

Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.”

Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?”

Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.”

Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.”

Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289). []



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline