Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Ibu Kaya VS Ibu Miskin (1)

0

Robert T. Kiyosaki bercerita dalam bukunya tentang berbedanya ayah kaya dan ayah miskin (Rich Dad and  Poor Dad). Jika pembelajaran tentang kekayaan yang dia peroleh dari ayahnya, maka pengalaman saya sedikit berbeda dengan beliau.  Saya mendapatkan itu dari Ibu saya. Tiga kebijakan tentang ekonomi dari ibu saya.

1. Efisiensi terhadap segala hal

2. Produktifkan setiap asset

3. Semua bisa jadi uang

BACA JUGA: Betapa Banyak Kebaikan Ibu

Efisiensi terhadap segala hal

Penggunaan energi listrik rumah – TV, lampu dan alat-alat elektronik lainnya selalu diperingatkan kalau tidak dibutuhkan, matikan. Dan peringatan itu selalu saja diingatkan tanpa jenuh-jenuhnya. Begitupun untuk makanan dan pakaian. Makan dan berpakaianlah sesuai kebutuhan tidak perlu mewah tetapi cukup. Meski kita memiliki uang lebih, jangan sampai diboroskan dengan membeli sesuatu yang belum jelas manfaatnya.  Efisienkan segala hal di dalam rumah karena efisien awal dari kekayaan.

Produktifkan setiap asset

Jika memiliki uang berlebih, gunakan untuk sesuatu yang produktif dan punya nilai guna manfaat meski dengan hanya berjualan sesuatu a la kadarnya, tapi konsisten. Ibu saya untuk membiayai seluruh anaknya hingga mencapai perguruan tinggi dengan membuka warung kecil.  Memang, warung hanyalah salah satu usaha yang dimiliki selain 3 rumah kos-kosan dan pemberian kredit terhadap orang-orang yang sudah dikenalnya. Tanah kosong yang dimiliki ibu saya dijadikan bercocok tanam dan beternak meski hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga saja. Baginya, jika ada asset tidak produktif adalah kerugian besar. Empat puluh tahun lebih dia terus konsisten dengan usahanya. Saat ini ibu saya sudah renta tertelan usia tapi ketiga anaknya melanjutkan jejak sang Ibu terus berkembang dengan berwirausaha.

Semua bisa jadi uang

Di usia rentanya, ibu saya selalu memberikan contoh bagaimana caranya mendapatkan uang. Kadang dengan cara berjualan nasi uduk dan lontong sayur di depan rumah—dan hampir semua bahan baku diperoleh dari kebun dan ternak sendiri. Hingga jam 8 pagi ibu saya bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp. 25 000 (dua puluh lima ribu rupiah) plus 6 anggota keluarga sudah mendapatkan sarapan gratis. Kadang ada tetangga yang jual rambutan dan ibu saya dengan sigap mengikat dan menyimpannya depan rumah, menunggu orang lewat dan sampai sore hanya dengan modal Rp. 50.000, ibu saya bisa mengantongi keuntungan bersih Rp. 30. 000 rupiah. Dan masih banyak contoh kecil lain, mulai dari sampah hingga emas, ibu saya selalu mengajarkan mengelolanya dengan baik dan semua bisa jadi uang. Semua dilokoni dengan santai dan tidak menyita waktu. Baginya memberikan pembelajaran pada anak cucu itu lebih utama. []

SUMBER: RUMAHKELUARGAINDONESIA



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline