Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bolehkah Berbohong kepada Suami?

0

Saya pernah mendapat pertanyaan dari salah satu sahabat, “Gus Awy, bolehkah kita berbohong demi kebaikan?”

Saya tanya dia lebih lanjut, “Bohong kepada siapa?”

“Suamiku,” jawabnya pendek.

“Berbohong dalam hal apa dulu? Apa masalahnya?”

BACA JUGA: Nasihat Khusus untuk Para Istri

Aku berusaha mengorek untuk mendapat keterangan lebih dalam. Dan, begitulah percakapan itu selanjutnya. Saya pernah baca sebuah kolom di rubrik pertanyaan pada sebuah media.

Isinya tentang seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang selalu skeptis dan bertanya-tanya, apakah istrinya itu mencintai dia sepenuh hati?

Apakah sebelum menikah dengannya, istrinya itu pemah jatuh cinta kepada pria lain?

Hingga suaminya itu menyuruh istrinya tersebut bersumpah atas nama Allah untuk menjawab pertanyaan itu. Sang istri pun menjawab pertanyaan suaminya dan bersumpah dengan menyatakan bahwa dia mencintainya sepenuhnya. Selain itu, sebelum menikah dengannya, dia tidak pernah mencintai siapa pun.

Sang istri itu lantas bingung. Dia merasa berdosa sekaligus dilema karena kenyataannya dulu dia sempat mencintai seseorang sebelum akhirnya cinta itu hilang setelah menikah. Apakah tindakan sang istri dengan berbohong pada suaminya itu salah dan tidak dibenarkan?

Sementara, jika dia menjawab jujur apa adanya, keadaan tentu saja bisa runyam. Sebab, akan menimbulkan kecemburuan dan kemarahan suami yang tak bisa ditebak bagaimana akhirnya nanti. Memang hukum asal dari berbohong adalah haram.

Bohong sama sekali tidak dibenarkan oleh siapa pun dan semua orang tidak mau dibohongi. Namun, di sana ada beberapa keadaan khusus yang menjadi pengecualian dan syariat memperbolehkan berbohong dalam keadaan tersebut dengan melihat batasan dan kemaslahatan.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw. menjelaskan setidaknya ada tiga momen mendesak yang membolehkan seseorang tidak jujur demi kebaikan bersama:

Pertama, saat seorang menjadi mediator atau perantara di antara dua orang yang sedang bertikai dan berusaha merukunkan kembali dua belah pihak tersebut.

Kedua, saat seseorang dalam pertempuran. Sebab, perang membutuhkan strategi, taktik, dan tipu muslihat. Tidak mungkin, bagi seorang intelijen yang tertangkap, misalkan berkata jujur dalam keadaan ini dengan membocorkan rahasia negara yang bisa membahayakan bangsanya.

BACA JUGA: Suami Istri Berwajah Sama, Benarkah?

Loading...

Maka, berbohong dalam keadaan ini dibolehkan, jika nyawa taruhannya.

Ketiga, saat antara suami istri terjadi sesuatu yang bisa mengancam keutuhan rumah tangganya, dan mendesak untuk berbohong demi keutuhan. Semisal pertanyaan di atas tentang masa lalu yang sebenarnya telah terlupakan dan tidak seharusnya dibongkar lagi. Karena, jika diungkit kembali hanya akan menimbulkan pertengkaran yang tidak perlu.

Pada saat tertentu, bisa saja menjadi sebab timbulnya rasa cemburu berkepanjangan dan mengakibatkan perceraian jika tidak disikapi dengan bijak. []

Sumber:



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline