Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Wanita Tak Hanya Sekedar Menunggu

0

Terkadang seorang Muslimah mengalami dilema terkait urusan jodoh yang tak kunjung datang. Selama ini mungkin sudah menjadi semacam kebiasaan bahwa perempuan itu menunggu lelaki. Jadinya kalau ada perempuan yang melakukannya duluan malah jadi hal yang tabu.

Namun, sebenarnya dalam agama Islam tidak membatasi hal itu. Karena wanita boleh mengajukan lamaran dan bukan hanya yang lelaki.

Jika itu dilakukan dalam rangka kebaikan, misalnya karena ingin mendapatkan suami yang soleh, atau suami yang bisa mengajarkan agama, bukan termasuk tindakan tercela. Artinya, bukan semata karena latar belakang dunia seperti sekedar tampan dan kaya saja.

BACA JUGA: Nasihat Indah untuk Wanita yang Dipoligami

Proses pernikahan yang dilakukan ibunda Khadijah radhiyallahu ‘anha dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun patut dijadikan sebagai contoh teladan, karena ada dua hal penting yang bisa kita ambil teladan dan pelajaran sekaligus menepis ketabuan di masyarakat.

Yang pertama adalah tidak masalah dalam sebuah rumah tangga, suami berusia lebih muda daripada istri. Dan yang kedua, bukan hal yang memalukan kalau wanita yang mengajukan lebih dulu.

Mengenai bagaimana cara ini berlaku di zaman kita sekarang, kembali kepada kondisi di masing-masing masyarakat. Yaitu bagaimana cara melamar yang paling wajar dan tetap menjaga harga diri.

Ada dua cara yang bisa dilakukan oleh Muslimah untuk melamar lelaki shalih yang ia dambakan,

Pertama, Menawarkan diri langsung ke yang bersangkutan. Seperti yang disampaikan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, “Ada seorang wanita menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya, ‘Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar anda nikahi.’

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikannya, beliau tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga wanita ini duduk menunggu.

Kemudian datang seorang sahabat, ‘Ya Rasulullah, jika anda tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.’ (HR. Bukhari 5030)

BACA JUGA: Ini Tujuan Sebuah Pernikahan

Hadis ini menunjukkan bahwa sah-sah saja ketika ada seorang wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi lelaki yang dia harapkan bisa menjadi pendampingnya.

Kedua, melalui perantara orang lain yang amanah. Termasuk melalui perantara keluarganya, ayahnya atau ibunya atau temannya atau ustadznya. []

SUMBER: CURHATMUSLIMAH



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline