Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Sesuatu di Balik Fiqh Nisa

0

Oleh: Ratna Dewi Idrus

Memberi materi fiqh? Membayangkannya saja sudah mengerikan, apalagi melakoninya? Pikir saya, saat kakak dan kakak ipar menawarkan untuk memberikan materi fiqh pada karyawan-karyawannya khusus perempuan, agar lebih memahami dalam menjalankan ibadah.

BACA JUGA: Hukum Fiqih Memakai Pensil Alis

Entah mengapa saya tak kuasa menolak, walau merasa berat sekali menerima, tapi seakan saya merasakan, inilah kesempatan yang Allah berikan pada saya untuk belajar, sembari mengingat-ingat materi fiqh yang pernah ustadz Cholid Mahmud sampaikan semasa saya menghadiri kajian Ahad pagi di Islamic Centre Yogya dulu, dan mengumpulkan buku-buku yang membahas masalah fiqh untuk saya pelajari kembali. Seakan satu demi satu materi diberikan Allah pada saya, walau pertama-tama saya merasakan pusing berhari-hari saat harus memahaminya, menguatkan hati untuk membaca ulang, dan akhirnya takdir Allah ini membuat saya jadi ketagihan.

Benar Sahabat, banyak hal luar biasa kita dapatkan saat mempelajari fiqh, apalagi saat mengetahui pendapat Imam Syafi’I, bahwa orang yang mempelajari fiqh, mulialah kadarnya.

Apalagi fiqh khusus perempuan yang tentunya sangat special untuk kita, sebagaimana Allah menaruh perhatian khusus pada kaum perempuan, bukankah di dalam Al Qur’an hanya ada surat An Nisaa, bukan surat Ar Rizaal (laki-laki)? Dan terlebih lagi sampai busana berpakaianpun Allah memberi perhatian special untuk kita, subhanallah.

Kita, kaum perempuan, adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Kita memiliki peran yang sangat penting dalam menghantarkan baik dan tidaknya bangsa ini.

Allah memberikan tugas special pada kita untuk hamil, melahirkan, menyusui, dan lainnya. Karena itu, Allah membentuk fisik kita sesuai dengan tugas-tugas yang diberikan pada kita. Adanya tugas-tugas khusus itulah, maka Allah memberlakukan hukum-hukum yang khusus pula pada kita sehingga ada perbedaan hukum antara kita dengan laki-laki dari sisi ibadah dan muamalah. Dari sinilah muncul fiqh yang menjelaskan tentang hukum-hukum yang terkait kekhususan wanita atau yang kita sebut “Fiqh Nisa”.

Ada sesuatu di balik fiqh Nisa, yang sejujurnya adalah sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk kita kaum perempuan mempelajarinya, mempelajari Fiqh Nisa ini mendorong kita untuk menjadi wanita yang shalihah, baik secara pribadi dan sosial. Bukankah setiap kita pasti ingin menjadi wanita shalihah? Keshalihan tidak hanya ditentukan dari satu sisi saja, melainkan dari berbagai sisi. Fiqh Nisa memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan kita menjadi shalihah. Contohnya, jika kita mempelajari tentang kewajiban menutup aurat dan menjaga pandangan, kemudian kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka perbuatan ini menjadikan diri kita lebih bernilai, menyadarkan kita akan pentingnya mengajak perempuan lain untuk menutup aurat, dan sekaligus menjadi contoh masyarakat.

Ulama mengatakan bahwa kita, kaum perempuan adalah separuh dari masyarakat, namun pengaruh kita lebih besar terhadap perbaikan masyarakat. Bahkan saat ini di Negara kita, jumlah kaum perempuan lebih banyak daripada kaum laki-laki. Jika kita ingin menjadikan bangsa ini berkualitas, maka kita harus memperhatikan kualitas diri kita sebagai sekolah pertama bagi bangsa ini. Karena dari rahim perempuanlah akan lahir generasi penerus, dari hati perempuanlah generasi ini mendapat kasih sayang, dari tangan perempuanlah sebuah umat mendapatkan awal pendidikan dan dari ilmu perempuanlah sebuah umat akan dihantarkan. Jika kaum perempuan tidak dibekali dengan ilmu-ilmu yang terkait dengan perannya, maka bisa dibayangkan bagaimana kerusakan umat ini.

Banyak cara yang Allah kirimkan untuk menguatkan saya mempelajari Fiqh, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Allah akan memberinya pemahaman dalam agama.” Semoga ini jalan Allah agar saya menjadi baik, dengan memberikan saya pemahaman dalam hal fiqh, belajar dan mengajarkannya, amin.

Saat hendak memberikan materi wudhu, ada informasi dari sahabat tentang betapa wudhu dapat menghindarkan seseorang dari penyakit seperti kanker getah bening, hal ini mengingatkan saya pada saudara yang meninggal dunia akibat penyakit ini, mulanya beliau terkena kanker payudara, saat saya temui terakhir kalinya beliau bercerita sudah memasuki stadium 3, dan akhirnya beliau pun meninggal karena kanker getah bening, kanker yang katanya sudah tidak bisa disembuhkan lagi.

Pak Arman Sibuea, satu-satunya ahli sclera, iris dan pupil mata di Indonesia, saat memberi pelatihan mengenai: Pendeteksian kanker malalui mata (sciera dan iris), mengungkapkan bahwa, “Pada kanker getah bening, system pembiakannya melalui saluran getah bening yang berada di seluruh tubuh manusia dan sangat cepat menjalarnya. Ternyata, ketika melakukan wudhu dengan benar, tubuh dan jiwa kita tidak hanya suci dan bersih, bahkan Allah menambahkan bonus sehat dan terhindar dari kanker kelenjar getah bening.”

Wudhu yang benar dengan bersungguh-sungguh melakukan rangkaian urutan berwudhu. Dimulai mencuci tangan dan sela-sela jemari, muka, telinga, ubun-ubun, dan kaki. Tanpa sadar, ketika kita membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki, serta telinga, kita telah melakukan pijatan pada bagian-bagian badan tersebut, dan di area itu, (sela jari kaki dan tangan serta telinga) adalah tempat titik syaraf kelenjar getah beningnya diaktifkan.

Subhanallah, minimal 5 kali sehari kita lakukan, bagaimana tidak sehat? Jadi betapa Allah mencintai kita, dengan segala perintah dan aturan-Nya.

Saat kita menelisik hati, untuk meneliti, bahwa segala bentuk ibadah yang diperintahkan-Nya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.

Loading...

Berwudhu adalah terapi mudah, murah dan sehat penuh manfaat. Dengan mengetahuinya, semakin menambah semangat kita untuk mempelajari ilmu fiqh.

Penelitian itu membuat kita termotivasi dari segi fisik, namun semangat kita semakin membuncah manakala kita mendengar kabar yang lebih dahsyat lagi dari Rasulullah, yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Nasa’I, saat itu beliau Saw berkata pada sahabatnya, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya? Para sahabat berkata, ‘Tentu wahai Rasulullah.

Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke Masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Maka itulah yang disebut dengan ribath.” Kata Ribath ini diulang beliau sampai tiga kali yang artinya adalah keterikatan diri dalam jihad kepada Allah serta membiasakan berwudhu dengan menyempurnakannya dan beribadah, bernilai sama dengan jihad fi sabilillah).

Ah, ternyata, banyak keajaiban terbentang saat kita mengetahui sesuatu di balik Fiqh Nisa, membuat kita semakin bersemangat untuk mempelajarinya dan semakin bersemangat lagi saat mengajarkannya, hidup kita lebih memiliki sesuatu, sesuatu yang bernilai, mumpung masih diberikan Allah kesempatan untuk menikmati kehidupan ini, semoga dengan mempelajari Fiqh Nisa, sebagaimana kata Imam Syafi’I, mulialah kadar kita. Aamiin.

Wassalam []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline