Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

19 Aturan dalam Poligami (Bagian 2-Habis)

0

9. Istri yang sedang haid, nifas, atau sakit juga tetap mendapat pembagian giliran.

Demikian yang dinyatakan oleh ats-Tsauri, asy-Syafi’i, dan ashabur ra’yi, sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Qudamah ( al-Mughni, “Kitab ‘Isyratun Nisa”, “fashl Yuqsamu lil Maridhah…”).

Al-Qurthubi rahimahullah juga menyatakan demikian. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/139)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bermalam di rumah istri beliau yang haid dan tidur bersamanya. Kata Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Apabila salah seorang dari kami haid dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin bercampur (selain jima’) dengannya, beliau perintahkan si istri untuk bersarung (menutupi tubuh bagian bawah), lalu beliau pun mencampurinya. Kata Aisyah, “Siapa di antara kalian yang mampu menahan nafsunya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mampu menguasainya?” (HR. al-Bukhari no. 302 dan Muslim no. 677)

Maimunah radhiyallahu ‘anha pun memberitakan sebagaimana yang dikabarkan oleh Aisyah x. (HR. al-Bukhari no. 303 dan Muslim no. 678)

BACA JUGA: Drama Poligami yang Mengharukan (Bagian 1)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Wajib bagi suami berlaku adil di antara istri-istrinya. Setiap istri berhak mendapatkan giliran sehari semalam. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama berpendapat, giliran hanya wajib pada malam hari, tidak pada siang hari. Hak istri tidak gugur pada saat sakit dan haid. Suami harus berada di samping istrinya pada hari gilirannya dan malamnya. Wajib bagi suami berlaku adil di antara para istri di saat sakit (suami) sebagaimana yang ia lakukan di saat sehatnya. Lain halnya jika ia tidak kuasa untuk bergerak, maka ia tinggal di rumah istrinya tempat ia jatuh sakit (yang membuatnya tidak bisa bergerak/ sakit parah) di situ. Apabila telah sehat, ia memulai lagi giliran yang baru. (al- Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/139).

10. Bermalam di samping seorang istri tidak berarti harus jima’ dengannya.

Yang penting, si suami bermalam di rumah istri tersebut, maka hal tersebut sudah mencukupi. Namun, tentu disenangi apabila suami tidak menyia-nyiakan istrinya. (al-Minhaj, 9/288)

11 . Suami tidak wajib menyamakan istri-istrinya dalam hal cinta, kecondongan hati, dan jima’. Namun, apabila suami bisa menyamakan, hal itu baik dalam tinjauan keadilan. Kalaupun tidak, tidak ada dosa bagi suami.

12. Tidak boleh mendahulukan satu istri selain dalam hal awal mendapatkan giliran sehingga dilakukan undian, kecuali apabila para istri ridha mengikuti kehendak suami, siapa istri yang digilirnya terlebih dahulu.

Disebutkan dalam al-Majmu’, (18/110), “Apabila suami hendak membagi giliran (di antara para istrinya) ia tidak boleh memulai dari salah seorang istri tanpa keridhaan istri-istri yang lain, kecuali dengan undian. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ.

“Siapa yang memiliki dua istri lalu condong kepada salah seorang dari keduanya (berlaku tidak adil), maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sebelah tubuhnya miring.” (HR. Abu Dawud no. 2133, an-Nasa’i no. 3942, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud, Shahih an-Nasa’i, dan Irwa’ul Ghalil no. 2017)

Selain itu, memulai dari salah seorang istri tanpa melakukan undian akan mengundang perasaan tidak suka/iri. Apabila ia mengutamakan satu istrinya dalam hal giliran baik dengan undian maupun tidak, ia wajib mengqadha (menggantinya) untuk istri-istri yang lain. Sebab, kalau ia tidak qadha berarti ia telah condong/melebihkan salah seorang istrinya dari yang lain sehingga ia masuk dalam ancaman yang disebutkan dalam hadits.”

BACA JUGA: Drama Poligami yang Mengharukan (Bagian 2)

Loading...

13. Saat giliran seorang istri, maka pada malam hari suami tidak boleh pergi ke rumah istrinya yang lain kecuali karena suatu keperluan yang darurat. Apabila sampai suami melakukannya, hal itu adalah pelanggaran terhadap sikap adil.

Dalilnya adalah kisah malam giliran Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan Aisyah untuk memenuhi ajakan Jibril ziarah ke Baqi’, namun disangka oleh Aisyah hendak ke tempat istri yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu menyatakan, “Apakah engkau menyangka Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu7?” (HR. Muslim no. 974)

Darurat yang dimaksud contohnya sakit, atau si madu dikhawatirkan meninggal, atau ia dipaksa oleh penguasa untuk ke tempat madu istrinya. Apabila demikian, ia boleh keluar dan wajib baginya mengqadha waktu yang terpotong dari istri yang punya hak giliran. (al- Majmu’, 18/119)

14. Boleh para istri berkumpul di malam hari di rumah istri yang sedang mendapatkan giliran untuk bercerita atau berbincang-bincang sampai datang waktu tidur, kemudian masing-masing pulang ke rumah mereka. (Zadul Ma’ad, 4/20)

Hal ini dilakukan oleh istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

فَكُنَّ يَجْتَمِعْنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي بَيْتِ الَّتِي يَأْتِيْهَا

“Mereka (para istri Nabi) berkumpul setiap malam di rumah istri yang didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 3613)

15. Hukum asalnya dan yang lebih utama, suami menggilir istriistrinya dengan mendatangi mereka di rumah masing-masing, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hal ini lebih bagus dari sisi pergaulan suami istri, lebih menjaga istri, dan lebih menutupinya. Namun, apabila suami memiliki tempat atau kamar khusus, kemudian memanggil istri yang sedang memperoleh giliran ke tempatnya, hal itu dibolehkan. Sebab, memindahkan istri ke mana saja yang ia inginkan adalah hak suami, dan sudah menjadi kewajiban bagi istri untuk mengikuti suaminya. (al-Mughni, “Kitab ‘Isyratun Nisa”, “fashl Al-Aula an Yakuna li Kulli Wahidah min hunna Maskan”, dan al- Minhaj, 10/289)

BACA JUGA: Drama Poligami yang Mengharukan (Bagian 3)

16. Tidak boleh menggauli istri yang bukan gilirannya kecuali dengan keridhaan istri yang sedang memperoleh giliran.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan kepadakeponakannya, Urwah bin az-Zubair, “Wahai anak saudara perempuanku! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak mengutamakan sebagian kami dari yang lain dalam hal berdiamnya beliau di sisi kami saat pembagian giliran. Hampir setiap hari beliau berkeliling ke tempat kami seluruhnya, lalu beliau mendekati setiap istrinya tanpa melakukan jima’. Tatkala beliau sampai ke rumah istri yang mendapat giliran hari itu, beliau pun bermalam di rumahnya.” (HR. Abu Dawud no. 2135, hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Shahih Abi Dawud)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, boleh bagi suami untuk masuk menemui istri-istrinya seluruhnya pada hari giliran salah seorang dari mereka, tetapi ia tidak boleh menggauli istri yang bukan hari gilirannya. (Zadul Ma’ad, 4/20)

Al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah juga menyatakan demikian. Jadi, suami dibolehkan bermesraan, menyentuh/ meraba, dan mencium istri yang bukan gilirannya (asal bukan jima’). (Subulus Salam, 6/145)

17. Seorang istri boleh menghadiahkan gilirannya kepada madunya.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha yang memberikan hari dan malamnya untuk Aisyah radhiyallahu ‘anha. (HR. al-Bukhari no. 2688 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

18. Mengundi para istri apabila ada yang hendak dibawa safar.

BACA JUGA: Drama Poligami yang Mengharukan (Bagian 4-Habis)

Walaupun dalam masalah ini adaperbedaan pendapat, antara yang mengatakan wajib diundi, seperti al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, dan yang berpendapat tidak wajib (Subulus Salam 6/146)9, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Apabila ingin safar, beliau n mengundi di antara istri istrinya. Siapa di antara mereka yang keluar undiannya, beliau membawanya dalam safar. (HR. al- Bukhari no. 2688 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Suami tidak boleh mengkhususkan salah seorang istrinya untuk safar bersamanya kecuali dengan undian.” (al-Muhalla, 10/63)

Setelah pulang dari safar yang sebelumnya dilakukan undian untuk menentukan istri mana yang akan diajak, si suami tidak mengqadha giliran untuk istri yang tidak diajak safar.

Demikian pendapat kebanyakan ulama. Mereka berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan alasan seperti itu dalam Zadul Ma’ad.

Adapun kalau safarnya tanpa undian, dibawa siapa saja dari istri yang diinginkan oleh suami, Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan tiga pendapat, apakah suami harus mengqadha untuk istri yang tidak diajak safar ataukah tidak.

– Tidak mengqadha, sama saja dilakukan undian atau tanpa undian. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan al-Imam Malik.

– Diqadha untuk istri-istri yang ditinggal dan tidak diajak safar, sama saja apakah dilakukan undian atau tidak. Ini adalah mazhab Zhahiri.

– Kalau dilakukan undian, suami tidak mengqadha; apabila tanpa undian, suami harus mengqadha. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan asy- Syafi’i. Wallahu a’lam. (Zadul Ma’ad, 4/20)

19. Seorang perempuan dibenci “memanas-manasi” madunya dengan apa yang tidak ada padanya.

Ketika ada seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, saya memiliki madu. Apakah saya berdosa apabila saya mengatakan kepadanya bahwa saya diberikan harta ini-itu dari suamiku, padahal sebenarnya suamiku tidak memberikannya?” Rasulullah rahimahullah menjawab,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ

“Orang yang berhias-hias (mengakungaku) dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. al- Bukhari no. 5219 dan Muslim no. 5549 dari Asma radhiyallahu ‘anha)

Biasanya, perempuan melakukannya karena ingin membuat marah atau memanas-manasi madunya (Fathul Bari, 9/394 ).

Perbuatan seperti ini jelas tercela Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang tidak wajibnya membagi sama rata di antara para istri dalam urusan jima’ (berhubungan badan).”

Mampu Bersikap Adil Adalah Nikmat Menikah lebih dari satu istri bagi yang mampu adalah sebuah kelebihan. Namun, hal itu haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu disertai kewajiban menghindari sikap-sikap yang tercela. Ia harus mengedepankan sikap adil dan menjauhi bentuk-bentuk kezaliman.

Al – Imam Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Nikmat Allah Subhanahu wata’ala terbesar kepada seorang hamba adalah dimudahkan untuk memiliki sikap adil dan cinta kepada keadilan, serta dimudahkan untuk berada di atas kebenaran dan cinta kepada kebenaran.” (Mudawatun Nufus hlm. 90) Semoga Allah Subhanahu wata’ala memudahkan setiap hamba yang berusaha menegakkan sunnah Nabi-Nya. Wallahul muwaffiq. []

 

SUMBER: : ASYSYARIAH



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline