Breaking News
Foto: kathmandupost.ekantipur.com

Bolehkah Muslimah Putus Asa?

Pernahkah ukhti merasa putus asa? Merasa paling tersiksa? Mendapat ujian paling berat? Pernahkah ukhti mengeluh? beikut ini adalah kisah mengenai seseorang yang gemar mengeluh.

Kebiasaan orang-orang yang dekat dengan Allah adalah mengamati sekelilingya. Mereka menjadikan segala apa yang terjadi sebagai bahan perenungan kepada Allah. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.

Suatu hari, ketika Abu Hanifah tengah berjalan-jalan mengelilingi daerah sekitarnya. Ia melewati sebuah rumah yang terletak di pedesaan. Jendela rumah itu terbuka. terdengar suara seorang yang sedang mengeluh dan menangis. ketika semakin mendekat suara itu pun semakin jelas. Abu Hanifah mendekati rumah itu dengan perlahan agar tiak diketahui sang empunya rumah.

“Aduhai alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada yang mengalami kemalangan lebih dari diriku. aku ini orang yang celaka. Aku memang tidak beruntung. Badanku lemah lunglai, belum ada sesuap nasi yang menghampiri kerongkonganku.” Suara itu sekarang semakin terdengar jelas.

Abu hanifah terkejut . Rasa ibanya pun muncul. Di satu sisi ia merasa bersalah karena membiarkan ada orang yang kelaparan didekatnya. Ia takut Allah tidak ridho kepadanya akibat membiarkan tetangganya kesulitan.

Abu hanifah pun pulang ke rumah dan membawa bungkusan berisi uang. Bungkusan itu pun ia berikan dengan melemparkan begitu saja bungkusan tersebut melalui jendela. Mendapati sebuah bungkusan berisi uang, orang tersebut begitu kebingungan namun gembira.

Di dalam bungkusan itu terdapat sepucuk surat dari Abu Hanifah. “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadanya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, tetaplah berusaha!”

Namun karena terlalu terkejut orang tersebut mengabaikan isi pesan Abu Hanifah.

Keesokan harinya Imam Abu Hanifah melewati rumah tersebut lagi. Lalu ia melemparkan bungkusan dan secarik kertas. Orang tersebut merasa beruntung dan bahagia. Ia meyakini bahwa bungkusan itu berisi uang lagi.

Namun kali ini ia membaca tulisan Abu Hanifah.”Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar. perbuatan demikian malas namanya dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh Allah tidak ridho melihat oranng yang pemalas. Beriktiarlah sedapat mungkin. InsyaAllah engaku akan mendapatkan pekerjaan. Carilah segera pekerjaan! aku do’akan semoga berhasil.”

Keesokan harinya, dia pun keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah dan tidak pernah melupakan orang yang telah menasehatinya.

Dari cerita terebut ukhti dapat menarik hikmah. Bahwasannya meratapi nasib itu tiada berguna. Allah tidak ridha kepada hambanya yang hanya meratap tanpa berusaha. Ingatlah selalu bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika ia tidak merubahnya sendiri. Maka hindari perilaku putus asa dan mengelh. Mengeluhlah pada Allah tetapi mengeluh yang diiringi harapan dan usaha. []

Redaktur : Karisa P.Yeli
Sumber : Peri Hidup Nabi dan Para Sahabat, Saad Saefullah, Pustaka SPU: Purwakarta, 2012



Artikel Terkait :

About Ummu Khadijah

Check Also

rasa syukur, kecantikan, anugrah dari Allah

10 Bahan Alami Mencerahkan Bibir

Keindahan bibir dilihat dari bentuk dan warnanya, konon bibir dengan warna merah merona merupakaan dambaan setiap wanita. Begitu pentingnya bibir bagi penampilan kaum Hawa, bahkan membuat orang rela melakukan berbagai cara memerahkan bibir.

Tinggalkan Balasan